
Loyalty Program
QRIS vs Cash: Mana yang Bikin Lebih Boros?
Penulis: Siti Nurmayani Putri
Kamis, 07 Mei 2026
Rating Artikel 0/5
|
0
Bagikan
Pertanyaan QRIS vs cash mana lebih boros sering muncul seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital di Indonesia. Banyak orang merasa lebih “ringan” saat membayar dengan QRIS dibanding uang tunai, tetapi tanpa sadar pengeluaran justru membengkak.
Fenomena ini tidak lepas dari konsep psikologi uang tunai vs digital yang memengaruhi cara kita mengambil keputusan finansial sehari-hari. Dengan memahami bagaimana metode pembayaran memengaruhi perilaku belanja, KPeople bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Kenapa Cara Bayar Bisa Mempengaruhi Jumlah Pengeluaran?
Metode pembayaran memiliki dampak besar terhadap perilaku konsumsi karena berkaitan langsung dengan persepsi nilai uang. Saat menggunakan uang tunai, kita melihat fisik uang berkurang dari dompet, sehingga ada kesadaran penuh terhadap pengeluaran.
Sebaliknya, dalam dompet digital vs tunai, transaksi digital terasa lebih abstrak karena hanya berupa angka di layar. Hal ini membuat seseorang cenderung melakukan cashless spending behavior tanpa banyak pertimbangan.
Selain itu, kemudahan dan kecepatan QRIS membuat proses pembayaran menjadi instan. Tidak perlu menghitung uang atau menunggu kembalian, sehingga otak tidak sempat “menilai ulang” keputusan pembelian.
Inilah alasan mengapa kebiasaan belanja cashless sering dikaitkan dengan peningkatan impulsive buying atau pembelian impulsif.
Apa Itu "Pain of Paying"?
Konsep pain of paying adalah istilah dalam psikologi keuangan yang menggambarkan rasa “tidak nyaman” saat mengeluarkan uang. Rasa ini muncul karena otak mengasosiasikan pengeluaran dengan kehilangan sumber daya.
Saat membayar dengan uang tunai, sensasi ini lebih kuat karena kita benar-benar melihat uang berpindah tangan.
Penelitian dalam bidang ekonomi perilaku menunjukkan bahwa pembayaran tunai meningkatkan kesadaran finansial, sehingga orang cenderung mengeluarkan uang lebih sedikit. Sebaliknya, pembayaran digital seperti QRIS mengurangi pain of paying, sehingga keputusan belanja terasa lebih ringan dan cepat.
Dengan kata lain, semakin kecil rasa “sakit” saat membayar, semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa bayar QRIS lebih boros dibandingkan uang tunai.
QRIS dan Pembayaran Digital: Lebih Mudah, Tapi Lebih Boros?
QRIS memberikan banyak kemudahan, mulai dari transaksi cepat, tanpa uang kembalian, hingga adanya promo dan QRIS reward poin. Namun, di balik kepraktisan ini, ada risiko meningkatnya pengeluaran karena kurangnya kontrol diri.
Dalam konteks kebiasaan belanja cashless, banyak orang tidak menyadari total pengeluaran karena transaksi terjadi secara otomatis dan tidak terasa. Hal ini diperparah dengan adanya diskon atau cashback yang sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Kpeople bisa membaca lebih lanjut Perbedaan Cashback dan Poin Reward: Mana yang Lebih Untung
Selain itu, pembayaran digital sering dikaitkan dengan perilaku konsumtif karena tidak ada batasan fisik seperti uang di dompet. Selama saldo masih ada, transaksi bisa terus dilakukan. Ini membuat QRIS berpotensi lebih boros jika tidak disertai tips mengatur pengeluaran yang tepat.
Cash: Lebih Hemat, Tapi Ada Trade-Off-nya
Dari sisi pengendalian pengeluaran, uang tunai sering dianggap sebagai metode pembayaran paling hemat. Hal ini karena adanya batasan fisik yang membuat seseorang lebih berhati-hati saat membelanjakan uang.
Dalam psikologi uang tunai vs digital, penggunaan cash membantu meningkatkan kesadaran finansial karena setiap transaksi terasa nyata. KPeople bisa langsung melihat berapa sisa uang yang dimiliki, sehingga lebih mudah mengontrol anggaran harian.
Namun, penggunaan cash juga memiliki kekurangan. Misalnya, kurang praktis, berisiko hilang, dan tidak menawarkan keuntungan seperti cashback atau reward. Selain itu, di era digital, banyak transaksi yang sudah beralih ke sistem cashless, sehingga penggunaan uang tunai menjadi terbatas.
Jadi, Mana yang Lebih Boros?
QRIS bisa terasa lebih boros karena mengurangi pain of paying dan mendorong cashless spending behavior. Namun, cash juga tidak selalu lebih hemat jika tidak disertai disiplin dalam mengatur pengeluaran.
Faktor utama yang menentukan adalah kesadaran finansial dan kebiasaan individu. Jika KPeople mampu mengontrol diri, memanfaatkan cara bayar yang menguntungkan seperti promo secara bijak, serta menerapkan tips mengatur pengeluaran, maka baik QRIS maupun cash bisa digunakan tanpa membuat boros.
Sebaliknya, tanpa kontrol yang baik, kedua metode ini tetap bisa membuat pengeluaran membengkak. Oleh karena itu, penting untuk memahami perilaku keuangan pribadi dan memilih metode pembayaran yang paling sesuai dengan gaya hidup KPeople.
Cara bayar yang paling "hemat" bukan yang paling sedikit fiturnya — tapi yang memberikan nilai balik paling besar dari setiap pengeluaranmu.
Bayangkan jika setiap kali kamu membeli produk Kalbe yang sudah jadi rutinitas harianmu, pengeluaran itu otomatis berubah jadi poin yang bisa ditukarkan dengan hadiah pilihanmu. Bukan diskon sesaat. Bukan promo yang kedaluwarsa. Tapi apresiasi nyata yang terus bertambah setiap kali kamu berbelanja.
Itulah yang KPoin tawarkan: sistem loyalty yang membuat belanja konsumsi sehari-harimu jadi lebih bermakna.
Yuk, pelajari Apa Itu KPoin dan bagaimana cara kerjanya — karena cara bayar terbaik adalah yang tidak hanya menguras, tapi juga mengisi kembali.
Download aplikasi KPoin sekarang dan mulai kumpulkan poinmu.
Komentar

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



