
Kesehatan Anak
Cara Menaikkan Berat Badan Anak yang Sulit Makan (GTM)
Penulis: Siti Nurmayani Putri
Rabu, 03 Juni 2026
Rating Artikel 0/5
|
0
Bagikan
Menghadapi anak susah makan sering kali menjadi tantangan besar bagi orang tua. Tidak sedikit Mama dan Papa yang merasa cemas ketika berat badan anak tidak naik karena GTM atau bahkan cenderung turun. Kondisi ini dapat membuat waktu makan berubah menjadi momen yang penuh drama, baik bagi anak maupun KPeople sebagai orang tua.
Padahal, menaikkan berat badan anak yang sulit makan (GTM) tidak bisa hanya dengan memaksa anak makan lebih banyak. Dibutuhkan pendekatan yang tepat agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa menciptakan pengalaman makan yang negatif.
Dengan memahami penyebab GTM pada anak dan menerapkan strategi yang sesuai, KPeople dapat membantu si kecil kembali menikmati makanan serta mendukung pertumbuhan yang optimal.
Apa Itu GTM (Gerakan Tutup Mulut)?
GTM atau gerakan tutup mulut balita merupakan istilah yang umum digunakan ketika anak menolak makan dengan berbagai cara. Misalnya menutup mulut rapat saat disuapi, memalingkan wajah, membuang makanan, atau bahkan menangis ketika waktu makan tiba.
GTM sebenarnya bukan diagnosis medis, melainkan perilaku makan yang bisa terjadi pada berbagai usia anak, terutama saat memasuki masa MPASI hingga usia balita. Kondisi ini dapat berlangsung sementara sebagai bagian dari perkembangan normal, namun pada sebagian anak bisa berlangsung lebih lama hingga memengaruhi asupan nutrisi dan pertumbuhan.
Kenapa Anak Bisa GTM? Ini Penyebab yang Sering Terlewat
Setiap anak memiliki alasan yang berbeda ketika mengalami GTM. Oleh karena itu, memahami penyebabnya menjadi langkah awal dalam menentukan cara atasi GTM yang efektif.
1. Fase Perkembangan Normal (Neophobia Makanan)
Pada usia sekitar 1–5 tahun, anak sering mengalami fase yang disebut food neophobia, yaitu ketakutan atau penolakan terhadap makanan baru. Dalam fase ini, anak cenderung hanya mau mengonsumsi makanan yang sudah dikenalnya dan menolak makanan lain.
Kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari perkembangan normal. Oleh karena itu, orang tua tidak perlu langsung panik jika si kecil tampak menjadi anak pilih-pilih makanan (picky eater) atau menolak menu yang sebelumnya disukai.
2. Sensory Processing yang Berbeda
Sebagian anak memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap tekstur, aroma, suhu, atau warna makanan. Anak mungkin menolak makanan tertentu bukan karena tidak lapar, melainkan karena merasa tidak nyaman dengan sensasi yang diterimanya.
Kondisi ini sering ditemukan pada anak dengan kecenderungan selective eating anak, sehingga mereka hanya mau mengonsumsi makanan dengan tekstur atau rasa tertentu.
3. Pengalaman Makan yang Tidak Menyenangkan
Pengalaman tersedak, dipaksa makan, dimarahi saat makan, atau mengalami gangguan pencernaan setelah makan dapat membuat anak mengembangkan asosiasi negatif terhadap makanan.
Akibatnya, anak menjadi lebih defensif saat waktu makan tiba dan menunjukkan perilaku GTM yang berkepanjangan.
Artikel lainnya: 10 Cara Atasi Anak Susah Makan dan Sebabnya, Ibu Wajib Tahu!
Dampak GTM Berkepanjangan pada Berat Badan Anak
Jika berlangsung terus-menerus, GTM dapat menyebabkan asupan energi dan nutrisi anak menjadi tidak mencukupi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan berat badan anak tidak naik karena GTM, bahkan menghambat pertumbuhan tinggi badan.
Selain itu, kekurangan nutrisi juga dapat memengaruhi daya tahan tubuh, perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga tingkat aktivitas anak sehari-hari.
Meski demikian, tidak semua anak yang GTM akan mengalami gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, pemantauan berat badan dan tinggi badan secara rutin tetap diperlukan untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Artikel Lainnya: Dampak Stunting pada IQ dan EQ Anak, Riset Terbaru
Strategi Praktis Mengatasi GTM pada Si Kecil
Tidak ada solusi instan untuk mengatasi GTM. Namun, beberapa strategi makan untuk anak GTM berikut dapat membantu meningkatkan asupan nutrisi sekaligus menciptakan hubungan yang sehat dengan makanan. Berikut tips anak mau makan yang bisa diterapkan:
1. Terapkan Pendekatan Division of Responsibility (Ellyn Satter)
Metode ini mengajarkan bahwa orang tua bertanggung jawab menentukan apa, kapan, dan di mana anak makan. Sementara itu, anak bertanggung jawab menentukan apakah ia ingin makan dan berapa banyak yang akan dikonsumsi.
Pendekatan ini membantu mengurangi tekanan saat makan serta memberi kesempatan kepada anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyangnya sendiri.
2. Perkenalkan Makanan Baru Tanpa Tekanan
Anak mungkin membutuhkan 10–15 kali atau bahkan lebih untuk menerima makanan baru. Jangan menyerah jika si kecil langsung menolak.
Sajikan makanan baru dalam porsi kecil bersama makanan favoritnya. Hindari memaksa atau menyuapi secara berlebihan karena justru dapat memperburuk GTM anak.
3. Tingkatkan Kalori Tanpa Menambah Volume Makanan
Jika tujuan utama adalah menaikkan berat badan, cobalah meningkatkan kepadatan kalori makanan tanpa memperbesar porsinya.
Cara meningkatkan nafsu makan anak yang bisa dilakukan antara lain:
- Menambahkan keju parut pada makanan.
- Menambahkan alpukat ke dalam menu harian.
- Menggunakan santan atau susu sesuai usia anak.
- Menambahkan selai kacang pada roti atau buah.
- Memberikan yoghurt full cream.
Cara ini sering menjadi solusi efektif bagi anak yang cepat kenyang tetapi membutuhkan tambahan energi.
4. Eksplorasi Tekstur & Rasa
Apabila anak menolak makanan tertentu, cobalah mengubah cara penyajiannya. Misalnya, wortel yang ditolak dalam bentuk rebus mungkin lebih disukai dalam bentuk sup, perkedel, atau stik panggang.
Eksplorasi tekstur dan rasa membantu anak mengenal makanan secara bertahap tanpa tekanan.
5. Singkirkan Gangguan dan Distraksi
Saat makan, usahakan televisi, gadget, atau mainan tidak berada di sekitar anak. Distraksi dapat membuat anak tidak fokus pada makanan dan mengganggu kemampuan mengenali rasa lapar maupun kenyang.
Ciptakan suasana makan yang nyaman dan menyenangkan agar anak lebih tertarik untuk mencoba makanan yang disajikan.
Artikel Lainnya: 10 Efek Negatif Anak Makan Sambil Main Handphone & Nonton TV
Kapan Perlu ke Dokter Anak?
Segera konsultasikan ke dokter anak apabila muncul tanda-tanda berikut:
- Berat badan anak tidak naik dalam beberapa bulan.
- Berat badan justru mengalami penurunan.
- Anak tampak lemas atau kurang aktif.
- GTM berlangsung lebih dari beberapa minggu tanpa perbaikan.
- Anak mengalami muntah berulang, diare kronis, atau kesulitan menelan.
- Anak hanya mau mengonsumsi jenis makanan yang sangat terbatas.
Dokter dapat membantu mencari penyebab yang mendasari, melakukan evaluasi status gizi, dan memberikan penanganan yang sesuai.
Sebelum itu, salah satu cara terbaik untuk memantau apakah GTM sudah berdampak pada pertumbuhan si kecil adalah dengan rutin mengecek berat badannya.
Fitur Health Tools di aplikasi KPoin memudahkan orang tua memantau berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak secara berkala sehingga kamu bisa mendeteksi perubahan lebih cepat dan mengambil langkah yang tepat.
Yuk, download aplikasi KPoin dan pantau tumbuh kembang si kecil via Health Tools.
Referensi:
- NHS. How to help your child gain weight. Diakses dari https://www.nhs.uk/live-well/healthy-weight/childrens-weight/how-to-help-your-child-gain-weight/
- Mayo Clinic. What's a good way to gain weight if you're underweight?. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/underweight/faq-20058429
- Eat Right. Safe Weight Gain Tips for Underweight Kids. Diakses dari https://www.eatright.org/health/wellness/weight-and-body-positivity/safe-weight-gain-tips-for-underweight-kids
- Cleveland Clinic. A Dietitian’s Best Advice If Your Child Is. Diakses dari https://health.clevelandclinic.org/dietitians-best-advice-child-underweight
Komentar

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



