HomeArtikelKesehatan Anak

7 Makanan Pemicu Alergi pada Anak dan Cara Mengenalkannya

7 Makanan Pemicu Alergi pada Anak dan Cara Mengenalkannya

Kesehatan Anak

7 Makanan Pemicu Alergi pada Anak dan Cara Mengenalkannya

profile-Siti Nurmayani Putri

Penulis: Siti Nurmayani Putri

Kamis, 30 April 2026

Rating Artikel 0/5

|

0

Bagikan

Memahami makanan pemicu alergi anak penting bagi KPeople sebagai orang tua, terutama saat si kecil mulai MPASI. Pada sebagian anak, sistem imun dapat bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu dalam makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Reaksi alergi yang muncul bisa ringan seperti gatal atau ruam, tetapi juga dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti anafilaksis pada anak.


Oleh karena itu, mengenali alergen utama makanan, memahami cara mengenalkan makanan alergen, serta memilih MPASI aman untuk alergi menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang si kecil.


Artikel lainnya: 5 Jenis Alergi pada Anak yang Sering Terjadi & Pengobatannya


Mengapa Makanan Tertentu Bisa Memicu Alergi pada Anak?


Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali protein tertentu sebagai ancaman, lalu memicu respons imun. Respons ini dapat menyebabkan reaksi alergi makanan anak seperti bentol, muntah, diare, sesak napas, hingga pembengkakan pada wajah atau bibir.


Faktor genetik, riwayat keluarga dengan alergi, eksim, atau asma juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami alergi makanan.


Menariknya, tidak semua sensitivitas makanan adalah alergi. Ada juga intoleransi makanan yang mekanismenya berbeda dengan alergi. Pada alergi, sistem imun terlibat langsung.


Itulah mengapa penting membedakan keduanya agar orang tua tidak keliru melakukan cara eliminasi makanan alergen atau menerapkan diet eliminasi anak alergi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.


7 Makanan yang Paling Sering Memicu Alergi pada Anak


Beberapa bahan pangan termasuk alergen utama makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada bayi dan anak. Meski begitu, bukan berarti semua anak harus menghindarinya, karena banyak bahan pangan justru dapat dikenalkan secara bertahap dengan aman.


1. Susu Sapi


Protein pada susu sapi menjadi salah satu makanan pemicu alergi anak yang cukup sering ditemukan, terutama pada bayi. Gejalanya bisa berupa ruam, muntah, kolik, diare, atau darah pada tinja. Kondisi ini berbeda dengan intoleransi laktosa.


Pada anak yang sensitif susu sapi, dokter mungkin menyarankan diet eliminasi anak alergi sementara untuk memastikan pemicunya. Namun, eliminasi harus terarah agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi, terutama kalsium dan protein.


Artikel Lainnya: Alergi Susu vs Intoleransi Laktosa pada Anak: Apa Bedanya?


2. Telur


Anak alergi telur cukup sering ditemukan, terutama pada usia dini. Reaksi bisa muncul setelah konsumsi putih telur maupun kuning telur, walaupun putih telur lebih sering menjadi pemicu.


Meski dulu pengenalan telur kerap ditunda, kini banyak panduan justru mendukung pengenalan lebih awal dengan cara yang sesuai usia sebagai bagian dari cara mengenalkan makanan alergen secara aman. Telur matang penuh umumnya menjadi pilihan awal yang lebih aman.


3. Kacang-Kacangan


Anak alergi kacang termasuk yang perlu perhatian khusus karena beberapa kasus dapat memicu reaksi berat. Alergi bisa terjadi pada kacang tanah maupun tree nuts seperti almond, kenari, atau mete.


Meski begitu, pengenalan kacang dalam bentuk aman sesuai usia, seperti pasta kacang yang diencerkan, justru dapat membantu menurunkan risiko alergi pada sebagian bayi. Tentu, konsultasi dokter penting jika anak berisiko tinggi alergi.


4. Gandum/Gluten


Gandum juga termasuk makanan alergen anak yang dapat memicu alergi, meski berbeda dengan penyakit celiac atau sensitivitas gluten. Gejalanya bisa berupa gangguan pencernaan, ruam, atau pembengkakan.


Jika dicurigai terdapat alergi gandum, dokter mungkin menyarankan cara eliminasi makanan alergen untuk evaluasi, tetapi sebaiknya jangan menghindari gluten tanpa diagnosis jelas karena bisa memengaruhi variasi nutrisi anak.


5. Ikan dan Seafood


Ikan, udang, kerang, dan seafood lain juga termasuk alergen utama makanan. Pada sebagian anak, reaksi bisa muncul cepat bahkan dalam jumlah kecil.


Padahal, ikan juga kaya omega-3 yang baik untuk tumbuh kembang. Oleh karena itu, bila tidak ada indikasi khusus, pengenalan bertahap tetap bisa dilakukan sebagai bagian dari MPASI aman untuk bayi alergi, tentu dengan observasi yang baik.


6 . Kedelai


Kedelai juga cukup sering memicu alergi pada bayi dan balita, meski banyak anak dapat mengatasinya seiring bertambah usia. Karena kedelai banyak terdapat dalam makanan olahan, orang tua perlu jeli membaca label bahan pangan.


7. Wijen


Wijen kini juga diakui sebagai salah satu alergen makanan utama di banyak negara. Meski tampak sepele, wijen sering tersembunyi dalam roti, saus, atau camilan. Ini penting diperhatikan bila anak memiliki riwayat alergi.


Baca juga: Awas Hidden Hunger pada Anak: Kenali Ciri-ciri & Solusinya


Cara Aman Mengenalkan Makanan Alergen saat Mulai MPASI


Pengenalan makanan alergen tidak selalu harus ditunda. Justru, strategi pengenalan yang tepat dapat membantu. Berikut tips yang bisa KPeople coba:


1. Terapkan Prinsip One Food at a Time


Prinsip satu makanan baru dalam satu waktu penting untuk memantau apakah ada reaksi alergi makanan anak. Berikan satu jenis makanan baru, lalu amati respons tubuh si kecil.

Cara ini juga membantu jika nantinya perlu melakukan diet eliminasi anak alergi, karena pemicunya lebih mudah dikenali.


2. Ketahui Berapa Lama Jeda antar Makanan Baru


Jika ingin memberikan makanan baru, dianjurkan untuk memberi jeda 3-5 hari antar makanan. Waktu ini cukup untuk melihat kemungkinan gejala alergi seperti ruam, muntah, atau diare.


Jeda ini juga menjadi bagian penting dari cara mengenalkan makanan alergen agar proses MPASI lebih terstruktur dan aman.


3. Kenali Tanda Reaksi Alergi yang Harus Segera Ditangani


Ruam ringan mungkin tampak sepele, tetapi gejala seperti bibir bengkak, mengi, muntah berulang, atau sesak napas bisa mengarah pada anafilaksis pada anak, yang merupakan kondisi darurat.


Jika muncul gejala berat, segera cari pertolongan medis. Orang tua juga perlu tahu kapan reaksi memerlukan evaluasi alergi lanjutan.


Apa yang Terjadi Jika Banyak Makanan Harus Dihindari oleh Si Kecil?


Ketika anak memiliki beberapa alergi makanan, tantangannya bukan hanya menghindari pemicu, tetapi menjaga asupan gizinya tetap cukup. Jika terlalu banyak pantangan tanpa pendampingan, anak bisa berisiko kekurangan protein, zat besi, kalsium, atau energi.


Di sinilah MPASI aman untuk bayi alergi perlu disusun dengan cermat. Dokter atau nutrisionis dapat membantu menentukan alternatif pengganti agar tumbuh kembang anak tetap optimal.


Dalam beberapa kondisi, dokter dapat merekomendasikan cara eliminasi makanan alergen atau diet eliminasi anak alergi untuk sementara. Namun prinsipnya bukan menghindari sebanyak mungkin makanan, melainkan mengidentifikasi pemicu secara tepat dan tetap mempertahankan variasi nutrisi.


Banyak anak dengan alergi makanan tetap dapat tumbuh sehat dengan pola makan yang dirancang baik. Fokusnya bukan hanya pantangan, tetapi juga alternatif yang aman dan bergizi.


Selain itu, orang tua perlu lebih cermat memastikan kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi dari sumber lain. Salah satu cara paling sederhana untuk mengetahui apakah nutrisi anak sudah cukup adalah dengan rutin memantau pertumbuhannya seperti berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala.


Kpoin menghadirkan fitur Health Tools untuk Tumbuh Kembang Anak di aplikasinya untuk memudahkan Bunda memantau status tumbuh kembang si kecil kapan saja dan di mana saja, langsung dari genggaman.


Yuk, coba sekarang, download aplikasi Kpoin dan gunakan Health Tools untuk memastikan si kecil tumbuh optimal meski sedang dalam proses penanganan alergi.


Referensi:

  1. Johns Hopkins Medicine. Food Allergies in Children and Babies. Diakses dari https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/food-allergies-in-children
  2. Healthy Children. Food allergies in children: Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Food-Allergies-in-Children.aspx
  3. Australian society of clinical immunology and allergy. How to Introduce Solid Foods to Babies for Allergy Prevention. Diakses dari https://www.allergy.org.au/patients/allergy-prevention/ascia-how-to-introduce-solid-foods-to-babies
  4. Mayo Clinic. Food allergy. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/food-allergy/symptoms-causes/syc-20355095
  5. NIH. Food Allergy. Diakses dari https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/food-allergy
  6. NHS. Food allergy. Diakses dari https://www.nhs.uk/conditions/food-allergy/
  7. WebMD. Wheat Allergy. Diakses dari https://www.webmd.com/allergies/wheat-allergy

Komentar

empty-state-comment

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!

Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.