HomeArtikelPsikologi

Pria Harus Punya Mental Provider! Setuju atau Tidak?

Pria Harus Punya Mental Provider! Setuju atau Tidak?

Psikologi

Pria Harus Punya Mental Provider! Setuju atau Tidak?

profile-Christovel Ramot

Penulis: Christovel Ramot

Jumat, 23 Januari 2026

Rating Artikel 5/5

|

4

Bagikan

Dalam budaya patriarki yang masih kuat dianut di banyak wilayah Indonesia, sosok pria kerap ditempatkan sebagai kepala keluarga dan penanggung jawab utama kehidupan rumah tangga.


Sejak lama, pria diajarkan untuk menjadi figur yang mengayomi, melindungi, dan memenuhi kebutuhan keluarga baik secara ekonomi, sosial, maupun emosional. Pola pikir inilah yang kemudian dikenal dengan istilah mental provider atau mindset provider.


Dalam banyak keluarga, sejak kecil anak laki-laki sering dibesarkan dengan pesan seperti “laki-laki harus kuat,” “jangan cengeng,” “nanti kamu yang menafkahi keluarga,” atau “jadi laki-laki itu harus bertanggung jawab.” Pesan-pesan tersebut secara tidak langsung membentuk ekspektasi bahwa seorang pria dewasa harus siap menjadi penopang utama kehidupan rumah tangga.


Namun, seiring perubahan zaman, muncul pertanyaan besar:


Apakah mental provider masih relevan di era modern, ketika perempuan juga bekerja, berpendidikan tinggi, dan berperan aktif dalam ekonomi keluarga?


Apakah tuntutan ini justru menjadi beban mental bagi pria? Ataukah mental provider sebenarnya bukan soal uang semata, melainkan tentang tanggung jawab yang lebih luas?


Artikel ini akan membahas secara singkat, konsep mental provider dari sudut pandang gaya hidup, kesehatan mental, budaya, serta dinamika keluarga modern.


Apa Itu Mental atau Mindset Provider?


Secara sederhana, mental provider adalah pola pikir tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan orang-orang yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya, terutama keluarga. Namun, pemaknaan mental provider sering kali tereduksi hanya pada kemampuan finansial, padahal sejatinya jauh lebih luas.


Makna Mental Provider yang Lebih Komprehensif


Mental provider tidak hanya berarti:


  1. Menjadi pencari nafkah utama
  2. Menghasilkan uang paling besar
  3. Menanggung seluruh kebutuhan materi


Tetapi juga mencakup:


  1. Tanggung jawab emosional: hadir secara mental dan emosional untuk pasangan dan anak
  2. Tanggung jawab psikologis: mampu mengelola stres, tekanan, dan konflik
  3. Tanggung jawab sosial: menjadi figur yang bisa diandalkan dalam pengambilan keputusan
  4. Tanggung jawab moral: memiliki integritas, nilai hidup, dan komitmen jangka panjang


Dengan kata lain, mental provider adalah kesadaran bahwa seseorang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab atas dampak kehadirannya bagi orang lain.


Baca artikel lainnya: Kenali Apa Itu Limerence, Cinta Buta yang Sesaat, Waspada!


Mengapa Mental Provider Sering Dikaitkan dengan Pria?


1. Akar Budaya Patriarki


Dalam sistem patriarki, pria ditempatkan sebagai pemimpin dan pengambil keputusan utama. Peran ini diwariskan lintas generasi dan dianggap sebagai kodrat sosial, bukan sekadar pilihan.


Di banyak budaya Indonesia:


  1. Pria = kepala keluarga
  2. Perempuan = pengelola rumah tangga
  3. Pria = pencari nafkah
  4. Perempuan = pendukung domestik


Konstruksi ini membentuk ekspektasi bahwa nilai seorang pria diukur dari kemampuannya “memberi”.


2. Faktor Historis dan Ekonomi


Pada masa lalu:

  1. Lapangan kerja lebih banyak diakses pria
  2. Perempuan dibatasi ruang geraknya
  3. Sistem ekonomi bertumpu pada tenaga fisik


Hal ini membuat peran provider secara alami melekat pada pria. Meski kondisi tersebut sudah berubah, narasi sosialnya masih tertinggal.


3. Maskulinitas Tradisional


Konsep maskulinitas tradisional sering mengaitkan:

  1. Kekuatan = kemampuan menanggung beban
  2. Harga diri = kemampuan finansial
  3. Kejantanan = tidak bergantung pada orang lain


Akibatnya, banyak pria merasa gagal sebagai individu ketika belum mampu “memberi” sesuai standar sosial, meskipun realitas hidup jauh lebih kompleks.


4. Tekanan Sosial dan Validasi Eksternal


Tidak sedikit pria yang dinilai:

  1. “Belum mapan” jika penghasilannya kecil
  2. “Kurang bertanggung jawab” jika belum menikah
  3. “Tidak layak” jika belum mampu membeli rumah atau kendaraan


Tekanan ini memperkuat anggapan bahwa mental provider adalah kewajiban mutlak pria, bukan pilihan yang disesuaikan kondisi.


Baca artikel lainnya: Tips Merawat Kenangan Masa Kecil dari Animasi Doraemon


Ciri-Ciri Pria yang Memiliki Mental Provider


Mental provider tidak selalu terlihat dari nominal gaji atau jabatan. Berikut ciri-ciri pria dengan mindset provider yang sehat dan matang:


1. Bertanggung Jawab atas Pilihan Hidupnya


Pria dengan mental provider:

  1. Tidak menyalahkan keadaan secara berlebihan
  2. Berani menghadapi konsekuensi keputusan
  3. Mau belajar dari kegagalan

Ia menyadari bahwa hidup tidak selalu ideal, tetapi tanggung jawab tetap harus dijalankan.


2. Punya Perencanaan Jangka Panjang


Mental provider tercermin dari:

  1. Perencanaan keuangan
  2. Tujuan hidup yang jelas
  3. Upaya membangun stabilitas, bukan hanya kesenangan sesaat


Bukan berarti harus sempurna, tetapi ada arah dan kesadaran masa depan.


3. Hadir Secara Emosional


Provider sejati bukan hanya soal uang. Pria dengan mindset ini:

  1. Mau mendengarkan pasangan
  2. Terlibat dalam pengasuhan anak
  3. Tidak menghindari konflik, tapi mengelolanya

Kehadiran emosional sama pentingnya dengan kontribusi materi.


4. Mau Berkembang dan Beradaptasi


Ia tidak gengsi untuk:

  1. Belajar keterampilan baru
  2. Meningkatkan kapasitas diri
  3. Beradaptasi dengan perubahan peran pasangan

Mental provider modern bersifat fleksibel, bukan kaku.


5. Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik

Pria dengan mental provider menyadari bahwa:


  1. Tubuh dan pikirannya adalah aset utama
  2. Burnout dan stres kronis justru merugikan keluarga
  3. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan


Ia paham bahwa tidak bisa “memberi” jika dirinya sendiri runtuh.


Baca artikel lainnya: Mental Health & Berserah Diri: Cara Efektif Jaga Mental


Apakah Anggapan Pria Harus Punya Mental Provider Masih Berlaku di Era Sekarang?


Jawabannya: iya, tapi dengan makna yang berbeda.


Perubahan Peran dalam Keluarga Modern

Di era sekarang:


  1. Banyak perempuan bekerja dan mandiri secara finansial
  2. Model keluarga dua pencari nafkah semakin umum
  3. Pembagian peran lebih egaliter


Namun, hal ini bukan berarti mental provider menjadi tidak relevan, melainkan bertransformasi.


Mental Provider Bukan Lagi Soal Siapa Paling Banyak Menghasilkan Uang


Dalam keluarga modern:


  1. Provider bisa berbentuk kontribusi yang berbeda
  2. Tanggung jawab bisa dibagi sesuai kesepakatan
  3. Nilai hubungan tidak ditentukan oleh satu pihak saja


Pria tetap bisa memiliki mental provider meski:


  1. Penghasilannya lebih kecil dari pasangan
  2. Sedang berada di fase membangun karier
  3. Mengambil peran domestik lebih besar


Yang penting adalah komitmen untuk bertanggung jawab dan berkontribusi, bukan soal dominasi.


Risiko Jika Mental Provider Dimaknai Secara Kaku

Pemahaman yang sempit bisa berdampak buruk:


  1. Tekanan mental berlebih pada pria
  2. Rasa gagal dan rendah diri
  3. Enggan berbagi beban dengan pasangan
  4. Masalah kesehatan mental seperti stres kronis dan depresi


Karena itu, mental provider perlu dipahami sebagai nilai tanggung jawab, bukan beban sosial sepihak.


Bisa disimpulkan bahwa, mental provider bukanlah konsep usang, tetapi juga tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Dalam konteks budaya Indonesia, anggapan bahwa pria harus memiliki mental provider lahir dari sejarah, budaya patriarki, dan konstruksi sosial yang panjang.


Namun, di era modern, mental provider:

  1. Tidak lagi identik dengan dominasi finansial
  2. Tidak harus mengorbankan kesehatan mental
  3. Tidak meniadakan peran dan kemandirian perempuan


Mental provider yang sehat adalah tentang kesadaran tanggung jawab, kesiapan berkontribusi, dan kematangan emosional, bukan sekadar soal angka penghasilan.


Alih-alih mempertanyakan “setuju atau tidak,” mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah:


Bagaimana membangun mental provider yang adil, sehat, dan relevan dengan realitas hidup hari ini?


Ingin Baca Artikel Kesehatan & Gaya Hidup Lainnya?

Kalau kamu tertarik membaca lebih banyak artikel seputar kesehatan, gaya hidup, mental well-being, dan keluarga modern, kamu bisa mengakses berbagai konten menarik melalui aplikasi KPoin.


Lewat KPoin, kamu juga bisa:


  1. Mengumpulkan poin dari belanja produk Kalbe
  2. Menukarkan poin dengan hadiah dan voucher belanja
  3. Mendapatkan promo menarik untuk kebutuhan sehari-hari


Yuk, download aplikasi KPoin sekarang juga dan mulai hidup lebih sehat, cerdas, dan untung!


Daftar Pustaka

  1. American Psychological Association. (2020). Guidelines for Psychological Practice with Boys and Men. Washington, DC: APA.
  2. Connell, R. W. (2005). Masculinities. Berkeley: University of California Press.
  3. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2021). Peran Gender dalam Keluarga Indonesia. Jakarta: KPPPA RI.
  4. World Health Organization. (2022). Mental Health and Well-Being in Men. Geneva: WHO.
  5. Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education.

Komentar

profile-royani

royani Rating 5/5

Sabtu, 24 Januari 2026

setuju banget, karena pria juga perlu mengenali dirinya dan tanggung jawabnya dengan begitu dia bisa... Selengkapnya
kpoin-admin-image

Admin KPoin

Sabtu, 24 Januari 2026

Hai Royani, yuk baca juga artikel menarik lainnya. Semoga bermanfaat ya. 😊 ^bn
profile-aam siti aminah

aam siti aminah Rating 5/5

Sabtu, 24 Januari 2026

Ya saya setuju, disisi lain perah ayah mencari nafkah ,, tapi tetap peran ayah di dlam rumah juga pe... Selengkapnya
kpoin-admin-image

Admin KPoin

Sabtu, 24 Januari 2026

Hai Aam, yuk baca juga artikel menarik lainnya. Semoga bermanfaat ya. 😊 ^bn
profile-tiara

tiara Rating 5/5

Jumat, 23 Januari 2026

setuju, di era modern seperti sekarang banyak wanita ingin meprovide diri nya sendiri untuk memenuhi... Selengkapnya
kpoin-admin-image

Admin KPoin

Sabtu, 24 Januari 2026

Hai Tiara, terima kasih untuk sharingnya. Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat ya. 😊 ^b... Selengkapnya
profile-novi amelia

novi amelia Rating 5/5

Jumat, 23 Januari 2026

setuju banget, apalagi buat kita yg punya anak laki² biar ngga patriarki dan paham perannya dalam ru... Selengkapnya
kpoin-admin-image

Admin KPoin

Sabtu, 24 Januari 2026

Hai Novi, terima kasih untuk sharingnya. Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat ya. 😊 ^bn

Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.