
Psikologi
Kenali Apa Itu Limerence, Cinta Buta yang Sesaat, Waspada!
Penulis: Christovel Ramot
Rabu, 21 Januari 2026
Rating Artikel 5/5
|
5
Bagikan
Pernah merasa baru bertemu seseorang, entah lewat dating app, dikenalkan teman (di-comblangin), atau bertemu singkat di satu acara, tapi rasanya langsung klik? Jantung berdebar lebih cepat, pikiran dipenuhi bayangan dirinya, dan setiap notifikasi darinya terasa seperti hadiah kecil yang bikin senyum sendiri.
Di fase ini, banyak orang langsung menyebut perasaan tersebut sebagai cinta. Padahal, belum tentu.
Rasa suka yang datang tiba-tiba, intens, dan terasa “menguasai pikiran” bisa jadi bukan cinta yang sehat, melainkan limerence.
Sekilas memang terasa indah, romantis, bahkan memabukkan. Tapi jika tidak disadari, limerence bisa membuat seseorang kehilangan kendali atas emosi, logika, dan keputusan hidupnya.
Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam apa itu limerence, tanda-tandanya, penyebabnya, mengapa perlu diwaspadai, serta langkah konkret untuk mengatasinya agar kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat dan realistis.
Apa Itu Limerence?
Limerence adalah kondisi psikologis yang ditandai dengan ketertarikan emosional yang sangat intens dan obsesif terhadap seseorang, biasanya disertai harapan besar akan balasan perasaan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Dorothy Tennov pada tahun 1979.
Berbeda dengan cinta yang matang dan stabil, limerence lebih menyerupai euforia emosional yang muncul secara tiba-tiba dan sering kali tidak rasional.
Karakter utama limerence:
- Fokus berlebihan pada satu orang (limerent object)
- Pikiran terus-menerus dipenuhi oleh orang tersebut
- Ketergantungan emosional pada respons kecil (chat dibalas/tidak)
- Rasa bahagia ekstrem saat mendapat perhatian, dan cemas berlebihan saat tidak
Limerence sering disalahartikan sebagai cinta sejati, padahal secara psikologis, ia lebih dekat dengan obsesi emosional.
Baca artikel lainnya: Tips Merawat Kenangan Masa Kecil dari Animasi Doraemon
Apa Tanda-Tanda Kamu Mengalami Limerence?
Limerence memiliki ciri yang cukup khas. Berikut tanda-tanda yang sering muncul:
1. Pikiran Terobsesi Sepanjang Waktu
Kamu sulit berkonsentrasi karena pikiran selalu kembali ke satu orang yang sama. Bahkan saat bekerja, belajar, atau berkumpul dengan orang lain, bayangan tentang dirinya terus muncul.
2. Overthinking Respons Kecil
Satu pesan singkat bisa membuatmu sangat bahagia, sementara pesan yang tidak dibalas langsung bisa memicu kecemasan, panik, atau rasa ditolak.
3. Mengidealkan Orang Tersebut
Kekurangan, red flag, atau sikap tidak konsisten sering kamu abaikan. Kamu lebih fokus pada versi ideal yang ada di kepalamu, bukan realita orang tersebut.
4. Emosi Naik Turun Drastis
Mood kamu sangat bergantung pada bagaimana orang itu bersikap hari ini. Sedikit perhatian terasa luar biasa, sedikit jarak terasa menyakitkan.
5. Sulit Melepaskan Meski Tidak Sehat
Walaupun hubungan terasa tidak jelas, sepihak, atau bahkan menyakitkan, kamu tetap sulit berhenti berharap.
6. Merasa “Hidup Baru Lengkap Kalau Bersama Dia”
Kebahagiaan pribadi seakan bergantung penuh pada kehadiran atau validasi dari satu orang tersebut.
Mengapa Limerence Bisa Terjadi?
Limerence tidak muncul tanpa sebab. Ada kombinasi faktor psikologis, biologis, dan pengalaman hidup yang memicu kondisi ini.
1. Faktor Biologis: Dopamin & Otak
Saat tertarik pada seseorang, otak melepaskan dopamin, hormon yang sama dengan yang berperan dalam rasa senang dan kecanduan. Pada limerence, pelepasan dopamin terjadi secara berlebihan, membuat perasaan “nagih”.
2. Kebutuhan Akan Validasi Emosional
Orang yang sedang merasa kurang dihargai, kesepian, atau kehilangan arah hidup lebih rentan mengalami limerence karena perhatian kecil terasa sangat bermakna.
3. Luka Emosional Masa Lalu
Pengalaman ditolak, hubungan tidak sehat sebelumnya, atau pola attachment yang tidak aman (anxious attachment) dapat memperbesar risiko limerence.
4. Fantasi Romantis Berlebihan
Ekspektasi cinta yang terlalu ideal, dipengaruhi film, drama, atau media sosial, membuat seseorang mudah terjebak pada hubungan yang hanya kuat di imajinasi.
5. Hubungan yang Tidak Jelas
Situasi ambigu (PDKT lama, tarik-ulur, ghosting lalu muncul lagi) justru memperkuat limerence karena otak terus berharap dan menebak-nebak.
Baca artikel lainnya: Mental Health & Berserah Diri: Cara Efektif Jaga Mental
Mengapa Limerence Perlu Diwaspadai?
Sekilas, limerence tampak romantis. Tapi jika dibiarkan, dampaknya bisa cukup serius.
1. Mengganggu Kesehatan Mental
Limerence dapat memicu kecemasan, overthinking kronis, insomnia, bahkan gejala depresi ringan hingga sedang.
2. Menghilangkan Objektivitas
Kamu sulit menilai apakah hubungan ini sehat atau tidak karena emosi sudah terlalu mendominasi logika.
3. Menurunkan Harga Diri
Ketika kebahagiaan bergantung pada orang lain, rasa percaya diri bisa ikut runtuh saat tidak mendapat balasan yang diharapkan.
4. Membuat Pola Hubungan Tidak Sehat
Limerence bisa mendorong perilaku people pleasing, pengorbanan berlebihan, dan toleransi terhadap perlakuan tidak adil.
5. Menghambat Pertumbuhan Diri
Energi mental habis untuk memikirkan satu orang, sementara aspek lain dalam hidup (karier, keluarga, pertemanan) terabaikan.
Bagaimana Cara Mengatasi Limerence? (Langkah Konkret)
Mengatasi limerence bukan soal “berhenti suka” secara instan, tapi tentang mengembalikan kendali atas diri sendiri.
1. Sadari dan Akui Perasaan
Langkah pertama adalah menyadari bahwa yang kamu alami bukan cinta sehat, melainkan limerence. Validasi perasaanmu tanpa menghakimi diri sendiri.
2. Batasi Paparan (Stimulus Control)
Kurangi stalking media sosial, cek chat berulang, atau memicu fantasi berlebihan. Ini membantu menurunkan lonjakan dopamin.
3. Grounding ke Realita
Tuliskan fakta objektif tentang hubungan tersebut:
- Apakah dia konsisten?
- Apakah ada komitmen nyata?
- Apakah kebutuhan emosimu terpenuhi?
4. Fokus pada Diri Sendiri
Isi waktu dengan aktivitas yang memperkuat identitas diri: olahraga, belajar hal baru, quality time dengan teman, atau self-care.
5. Perkuat Support System
Berbicara dengan teman atau keluarga bisa membantu melihat situasi dari sudut pandang yang lebih rasional.
6. Latih Regulasi Emosi
Teknik seperti journaling, meditasi, atau napas dalam membantu menenangkan pikiran yang obsesif.
7. Pertimbangkan Bantuan Profesional
Jika limerence berlangsung lama dan sangat mengganggu, konsultasi dengan psikolog dapat membantu menggali akar emosinya.
Baca artikel lainnya: Apa Selingkuh itu Hanya Karena Seks Doang?
Yuk kita simpulkan, Limerence adalah kondisi emosional yang intens, obsesif, dan sering disalahartikan sebagai cinta. Ia bisa terasa menyenangkan di awal, namun berisiko mengganggu kesehatan mental dan kualitas hidup jika tidak disadari.
Cinta yang sehat tumbuh dari waktu, konsistensi, dan realita, bukan hanya dari euforia sesaat dan fantasi. Dengan mengenali tanda-tanda limerence, memahami penyebabnya, dan mengambil langkah konkret untuk mengelola emosi, kamu bisa membangun hubungan yang lebih sehat baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri.
Ingin Baca Artikel Kesehatan & Gaya Hidup Lainnya?
Kalau kamu ingin membaca lebih banyak artikel seputar kesehatan mental, gaya hidup seimbang, dan well-being, kamu bisa download aplikasi KPoin.
Di KPoin, kamu bisa:
- Membaca artikel kesehatan & lifestyle terpercaya
- Mengumpulkan poin dari belanja produk Kalbe
- Menukarkan poin dengan voucher belanja dan hadiah menarik
Download KPoin sekarang juga dan mulai perjalanan hidup yang lebih sehat dan sadar diri.
Daftar Pustaka
- American Psychiatric Association. (2022). Understanding Obsessive Love and Attachment Patterns. Washington, DC.
- Fisher, H. (2016). Why We Love: The Nature and Chemistry of Romantic Love. New York: Henry Holt and Company.
- Tennov, D. (1979). Love and Limerence: The Experience of Being in Love. New York: Stein and Day.
- World Health Organization. (2021). Mental Health and Emotional Well-being. Geneva: WHO Press.
- Verywell Mind. (2023). What Is Limerence and How Does It Affect Relationships?
- Psychology Today. (2022). Limerence vs. Love: Understanding the Difference.
Komentar
cut nadira yurizka • Rating 5/5
Kamis, 22 Januari 2026
Admin KPoin
Kamis, 22 Januari 2026
Ilham • Rating 5/5
Kamis, 22 Januari 2026
Admin KPoin
Kamis, 22 Januari 2026
Andyani Aviolita • Rating 5/5
Kamis, 22 Januari 2026
Admin KPoin
Kamis, 22 Januari 2026
lina wahyuningrum • Rating 5/5
Rabu, 21 Januari 2026
Admin KPoin
Kamis, 22 Januari 2026
Rifatul Saadah • Rating 5/5
Rabu, 21 Januari 2026
Admin KPoin
Kamis, 22 Januari 2026
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



