
Kesehatan Anak
Dyspraxia: Kenali Ciri, Penyebab, & Cara Mendukung Anak
Penulis: Siti Nurmayani Putri
Selasa, 20 Januari 2026
Rating Artikel 5/5
|
1
Bagikan
*Telah Direview oleh Tim Medis Klikdokter
Pernahkah Kpeople selaku orang tua merasa anaknya terlihat lebih canggung dibandingkan teman sebayanya, sering menjatuhkan benda, atau kesulitan mengikuti pelajaran yang melibatkan gerakan? Kondisi ini bisa menjadi salah satu tanda dyspraxia.
Dyspraxia merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi koordinasi gerak anak, baik motorik halus maupun motorik kasar. Meski sering disalahartikan sebagai kurang latihan, dyspraxia adalah kondisi yang membutuhkan pemahaman dan pendampingan khusus sejak dini. Mari ketahui serba-serbi dyspraxia dengan membaca artikel di bawah ini sampai habis.
Artikel lainnya: Pahami Golden Age Anak: Umur Berapa & Kenapa Sangat Penting?
Mengenal Apa Itu Dyspraxia
Dyspraxia atau Developmental Coordination Disorder (DCD) adalah gangguan perkembangan neurologis yang memengaruhi kemampuan otak dalam merencanakan, mengatur, dan mengeksekusi gerakan tubuh.
Kondisi ini bukan disebabkan oleh gangguan otot atau tingkat kecerdasan yang rendah, melainkan adanya perbedaan pada cara otak memproses dan mengirimkan sinyal ke tubuh. Akibatnya, anak mengalami gangguan koordinasi gerak yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih sulit dibandingkan anak seusianya.
Pada anak dengan dyspraxia, kemampuan motorik halus seperti menulis, menggambar, atau mengancingkan baju sering kali terganggu. Begitu pula dengan motorik kasar, seperti berlari, melompat, atau menjaga keseimbangan tubuh.
Meski demikian, penting dipahami bahwa perkembangan kognitif anak dengan dyspraxia bisa normal atau bahkan di atas rata-rata. Tantangan utama terletak pada keterampilan fisik dan koordinasi, bukan pada kemampuan berpikir.
Baca artikel lainnya: Dampak Stunting pada IQ dan EQ Anak, Riset Terbaru
Ciri-Ciri Dyspraxia pada Anak yang Perlu Diamati
Ciri anak dyspraxia dapat muncul sejak usia dini dan berkembang seiring pertumbuhan anak. Pada masa balita, anak mungkin tampak terlambat mencapai tonggak perkembangan seperti duduk, merangkak, atau berjalan. Si kecil juga sering terlihat sebagai anak canggung, mudah terjatuh, atau kesulitan menjaga keseimbangan.
Memasuki usia prasekolah dan sekolah, tanda dyspraxia menjadi lebih jelas. Anak dapat mengalami kesulitan belajar yang berkaitan dengan aktivitas fisik, seperti menulis tangan yang sulit dibaca, lambat dalam menggunting, atau kesulitan mengikuti pelajaran olahraga. Koordinasi gerak yang kurang optimal juga membuat anak membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas-tugas sederhana.
Selain itu, beberapa anak dengan dyspraxia juga mengalami speech delay, karena koordinasi gerak otot-otot mulut dan lidah tidak bekerja secara optimal. Dalam kehidupan sehari-hari, anak mungkin kesulitan mengembangkan keterampilan hidup seperti makan sendiri, mengikat tali sepatu, atau merapikan barang. Jika tidak dipahami, kondisi ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan interaksi sosial anak.
Apa Saja Kemungkinan Penyebab Dyspraxia?
Hingga saat ini, penyebab pasti dyspraxia belum sepenuhnya diketahui. Para ahli meyakini bahwa kondisi ini berkaitan dengan perkembangan sistem saraf pusat yang berbeda sejak awal kehidupan. Faktor genetik, kelahiran prematur, atau berat badan lahir rendah diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya Developmental Coordination Disorder (DCD).
Hal penting yang perlu ditekankan adalah bahwa dyspraxia bukan kesalahan KPeople sebagai orang tua dan bukan disebabkan oleh kurangnya stimulasi motorik. Kondisi ini juga bukan akibat pola asuh yang keliru.
Dyspraxia merupakan kondisi seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikelola dengan intervensi yang tepat sehingga anak tetap mampu beradaptasi dan berkembang secara mandiri.
Artikel Lainnya: Kenali Brain Rot dan Dampaknya bagi Perkembangan Otak Anak
Tips Mendampingi Anak dengan Dyspraxia
Mendampingi anak dengan dyspraxia membutuhkan pemahaman, kesabaran, dan pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan anak. Karena dyspraxia memengaruhi koordinasi gerak, keterampilan hidup, hingga proses belajar, anak memerlukan dukungan yang konsisten agar tetap merasa aman dan percaya diri.
Dengan strategi pendampingan yang sesuai, orang tua dapat membantu anak mengembangkan potensi terbaiknya tanpa tekanan berlebihan.
1. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung di Rumah
Lingkungan rumah yang aman dan suportif sangat membantu anak dengan dyspraxia. Orang tua dapat memberikan instruksi yang sederhana, bertahap, dan konsisten.
Memberi waktu lebih lama pada anak untuk menyelesaikan tugas, serta menghindari tekanan berlebihan, dapat membantu anak merasa lebih percaya diri. Dukungan emosional ini sangat penting agar anak tidak merasa gagal atau berbeda dari teman-temannya.
2. Jadwalkan Konsultasi dengan Tenaga Profesional
Pendampingan profesional menjadi bagian penting dalam pengelolaan dyspraxia. Dokter anak berperan dalam menegakkan diagnosis dan menentukan rencana penanganan.
Anak juga dapat dirujuk ke terapis okupasi untuk melatih koordinasi gerak, motorik halus, serta keterampilan hidup sehari-hari. Jika terdapat speech delay, terapi wicara dapat membantu meningkatkan kemampuan komunikasi anak.
Artikel Lainnya: Mengenal Tipe Kepribadian Anak & Jenis Pola Asuh yang Tepat
3. Tetap Berikan Nutrisi Optimal untuk Perkembangan Otak dan Saraf
Pemenuhan nutrisi otak anak yang optimal turut mendukung fungsi saraf dan perkembangan kognitif. Asupan seperti omega-3, protein, zat besi, zinc, serta vitamin B kompleks berperan dalam membantu kerja sistem saraf.
Pola makan seimbang yang dikombinasikan dengan stimulasi motorik sesuai kemampuan anak dapat membantu anak mencapai potensi terbaiknya, meski nutrisi bukan terapi utama dyspraxia.
Dyspraxia memang bukan kondisi yang bisa disembuhkan, tetapi dengan pemahaman yang tepat, dukungan lingkungan, serta pendampingan profesional, anak dapat belajar beradaptasi dan mengembangkan keterampilan hidupnya secara bertahap.
Penerimaan, kesabaran, dan konsistensi dari orang tua menjadi kunci utama dalam membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan mandiri.
Untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil secara optimal, termasuk perkembangan otak dan koordinasi motoriknya, nutrisi yang seimbang sangatlah krusial.
Lengkapi kebutuhan nutrisi Si Kecil dengan Morinaga Platinum MoriCare+ Triple Bifidus atau varian sesuai usianya seperti Morinaga Chil Kid untuk usia 1-3 tahun dan Morinaga Chil School untuk usia 3-12 tahun.
Susu pertumbuhan ini dirancang dengan nutrisi penting untuk mendukung kecerdasan multitalenta, daya tahan tubuh, dan tumbuh kembang optimal anak.
Menariknya, setiap pembelian produk Kalbe ini atau Morinaga juga memberikan Bunda poin di KPoin, lho yang mana bisa ditukarkan dengan hadiah menarik seperti voucher belanja, saldo e-wallet hingga pulsa token listrik.
Pelajari lebih lanjut tentang Apa Itu Kpoin dan Keuntungannya Jika Bergabung dan jangan lupa download aplikasi KPoin untuk mendapatkan info jumlah poin yang telah dikumpulkan.
Referensi:
- Healthline. Dyspraxia Explained. Diakses dari https://www.healthline.com/health/dyspraxia
- NHS. Developmental co-ordination disorder (dyspraxia) in children. Diakses dari https://www.nhs.uk/conditions/developmental-coordination-disorder-dyspraxia/
- NIH. Developmental Coordination Disorder (Dyspraxia). Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603724/
- Mayo Clinic. Learning disorders: Know the signs, how to help. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/learning-disorders/art-20046105
- Cleveland Clinic. Dyspraxia. Diakses dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/23963-dyspraxia-developmental-coordination-disorder-dcd
Komentar
Lani Mulyawati • Rating 5/5
Selasa, 20 Januari 2026
Admin KPoin
Selasa, 20 Januari 2026
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



