HomeArtikelParenting Anak

Kenali Brain Rot dan Dampaknya bagi Perkembangan Otak Anak

Kenali Brain Rot dan Dampaknya bagi Perkembangan Otak Anak

Parenting Anak

Kenali Brain Rot dan Dampaknya bagi Perkembangan Otak Anak

profile-Siti Nurmayani Putri

Penulis: Siti Nurmayani Putri

Kamis, 15 Januari 2026

Rating Artikel 0/5

|

0

Bagikan

*Telah Direview oleh Tim Medis Klikdokter


Brain rot belakangan ini menjadi istilah yang semakin sering dibicarakan, terutama di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak sejak usia dini. Istilah ini menggambarkan kondisi penurunan kualitas fokus, daya pikir, hingga kemampuan belajar akibat paparan screen time berlebihan yang bersifat pasif dan minim makna.


Fenomena ini banyak disoroti karena berdampak langsung pada Generasi Alfa, generasi yang tumbuh berdampingan dengan teknologi digital sejak lahir. Jika tidak disadari dan ditangani sejak dini, brain rot dapat memengaruhi perkembangan otak, attention span (rentang perhatian), hingga kesehatan mental anak dalam jangka panjang.


Artikel Lainnya: Pahami Golden Age Anak: Umur Berapa & Kenapa Sangat Penting?


Mengenal Apa Itu Fenomena Brain Rot


Brain rot bukanlah diagnosis medis resmi, namun istilah populer yang digunakan untuk menggambarkan kondisi menurunnya fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan, seperti video pendek tanpa jeda, gim instan, atau media sosial yang merangsang otak secara cepat namun dangkal.


Paparan ini membuat otak terbiasa dengan stimulasi instan, sehingga anak kesulitan mempertahankan fokus dalam aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.


Dalam konteks perkembangan anak, otak memiliki kemampuan neuroplastisitas otak, yaitu kemampuan untuk membentuk dan memperkuat jaringan saraf berdasarkan stimulasi yang diterima.


Jika stimulasi yang dominan bersifat pasif dan repetitif, maka proses pertumbuhan sel saraf dan pematangan fungsi otak tidak berlangsung optimal. Anak menjadi mudah bosan, sulit fokus, dan kurang tertarik pada aktivitas yang menuntut pemikiran mendalam.


Selain itu, minimnya interaksi aktif juga berdampak pada stimulasi kognitif, seperti kemampuan memecahkan masalah, berbahasa, dan mengendalikan emosi. Padahal, stimulasi inilah yang menjadi fondasi kecerdasan anak di masa depan.


Dampak Jangka Panjang Brain Rot terhadap Kecerdasan Anak


Brain rot tidak hanya berdampak sementara, tetapi dapat memengaruhi kecerdasan anak dalam jangka panjang jika dibiarkan tanpa penanganan. Ini dia dampak jangka panjang brain rot terhadap tumbuh kembang si kecil:


1. Penurunan Fungsi Kognitif


Salah satu dampak paling nyata dari brain rot adalah penurunan fungsi kognitif. Anak yang terbiasa mengonsumsi konten cepat cenderung mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis, daya ingat, dan konsentrasi. Attention span (rentang perhatian) menjadi lebih pendek, sehingga anak sulit mengikuti pelajaran, membaca buku, atau menyelesaikan tugas hingga tuntas.


Berdasarkan studi National Institute of Health menunjukkan bahwa screen time berlebihan pada anak berkaitan dengan perubahan struktur otak yang berperan dalam bahasa dan kontrol diri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menghambat proses belajar jangka panjang.


2. Rentan Terkena Masalah Kesehatan Mental


Brain rot juga berkaitan erat dengan kesehatan mental anak. Paparan konten digital yang intens dapat meningkatkan risiko kecemasan, mudah marah, hingga gangguan tidur. Anak menjadi lebih sensitif terhadap rasa bosan dan frustasi karena otak terbiasa mendapatkan hiburan instan.


Selain itu, ada kaitan erat antara otak dan sistem pencernaan melalui gut-brain axis. Ketika pola hidup anak didominasi aktivitas pasif dan kurang gerak, keseimbangan mikrobiota usus dapat terganggu, yang akhirnya memengaruhi emosi dan perilaku anak. Oleh karena itu, kesehatan pencernaan anak turut berperan dalam menjaga stabilitas suasana hati dan fokus belajar.


3. Mengganggu Waktu Produktivitas Anak


Brain rot membuat anak lebih memilih aktivitas pasif dibandingkan kegiatan produktif seperti membaca, bermain kreatif, atau berinteraksi sosial. Akibatnya, waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk mengasah kemampuan motorik, bahasa, dan sosial menjadi berkurang.


Padahal, aktivitas aktif sangat dibutuhkan untuk mendukung stimulasi kognitif dan perkembangan emosi anak. Anak yang jarang berinteraksi langsung juga berisiko mengalami keterlambatan kemampuan sosial dan komunikasi.


Artikel lainnya: Screen Time Ideal Anak Usia 0–12 Tahun, Tips & Risikonya


Tips Mengatasi Brain Rot dan Mengalihkan Perhatian Anak


Kabar baiknya, brain rot dapat dicegah dan dikurangi dengan langkah sederhana yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. KPeople sebagai orang tua memiliki peran penting dalam mengalihkan perhatian anak dari kebiasaan digital pasif menuju aktivitas yang lebih aktif, kreatif, dan bermakna. Berikut tipsnya:


1. Batasi Screen Time


Langkah paling utama untuk mencegah dan mengatasi brain rot adalah membatasi durasi penggunaan gawai. American Academy of Pediatrics merekomendasikan pembatasan screen time sesuai usia anak, serta memastikan konten yang dikonsumsi bersifat edukatif dan interaktif.


Dengan pembatasan yang konsisten, otak anak memiliki kesempatan untuk kembali melatih fokus dan memperpanjang attention span (rentang perhatian) secara alami.


2. Dorong Anak Sosialisasi di Luar Rumah


Interaksi sosial langsung sangat penting untuk melatih empati, kemampuan komunikasi, dan pengendalian emosi. Bermain bersama teman sebaya membantu anak belajar menyelesaikan konflik, bekerja sama, dan memahami perasaan orang lain.


Aktivitas sosial juga mendukung neuroplastisitas otak karena melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan, mulai dari bahasa, emosi, hingga gerak tubuh.


3. Lakukan Detoks Digital dengan Aktivitas Fisik yang Kreatif


Detoks digital tidak harus ekstrem, namun dapat dilakukan dengan mengganti waktu layar dengan aktivitas fisik yang menyenangkan, seperti bersepeda, menggambar, menari, atau bermain peran. Aktivitas ini membantu meningkatkan aliran darah ke otak dan mendukung pertumbuhan sel saraf secara optimal.


Selain itu, aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga keseimbangan gut-brain axis, yang berdampak positif pada fokus dan suasana hati anak.


Baca artikel lainnya: Dampak Game pada Emosional Anak dan Cara Membatasinya


4. Bangun Literasi Media Sejak Dini


Membangun literasi media sejak dini menjadi langkah penting agar anak tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi mampu memahami dan mengelola dampak digital secara bijak.


Dengan mengajak anak berdiskusi sederhana tentang manfaat dan risiko konten digital, orang tua membantu membentuk kemampuan berpikir kritis serta memperkuat stimulasi kognitif anak.


Literasi media yang diterapkan secara konsisten akan membantu anak menggunakan teknologi sebagai sarana belajar yang sehat, mendukung perkembangan otak, dan mencegah dampak negatif seperti brain rot di kemudian hari.


5. Jadikan Stimulasi Kreatif sebagai Rutinitas Harian


Menjadikan stimulasi kreatif sebagai rutinitas harian merupakan langkah efektif untuk membantu pemulihan brain rot secara bertahap dan berkelanjutan.


Ketika dilakukan secara konsisten dan dikombinasikan dengan pengurangan screen time, stimulasi kreatif membantu memperpanjang attention span (rentang perhatian) serta meningkatkan kesiapan anak dalam menerima materi belajar.


Kebiasaan ini bukan hanya menyehatkan perkembangan otak, tetapi juga memberi anak ruang untuk tumbuh lebih kreatif, tenang, dan percaya diri dalam kesehariannya.


6. Berikan Contoh dari Orang Tua


Anak adalah peniru ulung. Jika KPeople sebagai orang tua mampu mengelola penggunaan gawai dengan bijak, anak akan lebih mudah mengikuti. Meluangkan waktu berkualitas tanpa gawai, seperti membaca bersama atau memasak bersama, memberikan pesan kuat bahwa interaksi nyata lebih bernilai.


Selain stimulasi lingkungan, asupan nutrisi juga penting. Dukungan nutrisi seperti susu pertumbuhan DHA tinggi dapat membantu mendukung fungsi otak, daya ingat, dan konsentrasi anak, terutama ketika dikombinasikan dengan pola asuh yang seimbang.


Artikel Lainnya: Tips Membentuk Kebiasaan Positif pada Anak Balita Sejak Dini


Selain melindungi si Kecil dari dampak negatif era digital seperti brain rot dengan stimulasi yang tepat, memberikan nutrisi yang tepat juga sama pentingnya untuk mendukung pertumbuhan otak anak.


Untuk itu, Kpeople dapat memberikan dukungan optimal melalui rangkaian produk Morinaga. Diperkaya dengan nutrisi penting seperti AA, DHA, Kolin, serta Omega 3 & 6, Morinaga membantu perkembangan otak dan daya ingat si Kecil. Tak hanya itu, kandungan Probiotik dan GOS di dalamnya juga menjaga kesehatan pencernaan agar sistem imunnya tetap kuat.


Menariknya, setiap pembelian produk Morinaga, Kpeople bisa mengumpulkan poin di KPoin. Poin-poin ini dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah menarik yang bermanfaat bagi keluarga, seperti saldo e-wallet, voucher belanja, hingga pulsa.


Ingin tahu lebih banyak? Pelajari Apa Itu Kpoin dan Keuntungannya Bergabung dan pastikan untuk mengunduh aplikasi KPoin sekarang juga agar setiap nutrisi yang Kpeople berikan untuk si Kecil mendatangkan keuntungan lebih!


Referensi:

  1. American Heart Association. Is brain rot real? Here's what brain health experts say. Diakses dari https://www.heart.org/en/news/2025/05/27/is-brain-rot-real-heres-what-brain-health-experts-say
  2. American Academy of Pediatrics. Beyond Screen Time: HelpYour Kids Build Healthy Media Use Habits. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/healthy-digital-media-use-habits-for-babies-toddlers-preschoolers.aspx
  3. NIH. Demystifying the New Dilemma of Brain Rot in the Digital Era: A Review. Diakses dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11939997/
  4. WebMD. What Is Brain Rot?. Diakses dari https://www.webmd.com/brain/brain-rot
  5. Morinaga. Waspada Brain Rot pada Anak dan Cara Ampuh Digital Detox. Diakses dari https://morinaga.id/id/milestone/waspada-brain-rot-pada-anak

Komentar

empty-state-comment

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!

Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.