HomeArtikelBerita Kesehatan

Apa Itu Influenza A? Gejala, Penyebab & Cara Mengatasinya

Apa Itu Influenza A? Gejala, Penyebab & Cara Mengatasinya

Berita Kesehatan

Apa Itu Influenza A? Gejala, Penyebab & Cara Mengatasinya

profile-Siti Nurmayani Putri

Penulis: Siti Nurmayani Putri

Senin, 12 Oktober 2026

Rating Artikel 0/5

|

0

Bagikan

Belakangan ini, influenza A kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia seiring meningkatnya aktivitas influenza yang dipantau Kementerian Kesehatan. Kondisi ini membuat KPeople perlu lebih waspada, terutama saat Si Kecil mulai mengalami demam, batuk, pilek, atau tubuh terasa lemas.


Sebenarnya, apa itu influenza A, apa saja gejalanya, dan bagaimana cara mencegah penularannya? Yuk, kenali lebih jauh agar KPeople dapat melindungi kesehatan keluarga dengan tepat.


Apa Itu Influenza A?


Influenza A adalah salah satu jenis infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Virus ini dapat menyerang hidung, tenggorokan, dan paru-paru, serta menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai flu.


Gejalanya bisa berupa demam, batuk, pilek, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Pada sebagian orang, infeksi ini dapat sembuh dengan perawatan di rumah. Namun, pada kelompok tertentu, influenza A juga bisa menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia atau perburukan penyakit kronis.


Influenza A dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa. Penularannya relatif mudah, terutama ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan orang yang sedang terinfeksi.


Perlu Kpeople ketahui, istilah influenza A tidak selalu berarti penyakit yang berbahaya atau sedang terjadi wabah. Tingkat keparahan infeksi dipengaruhi oleh jenis virus, kondisi kesehatan, usia, serta respons kekebalan tubuh seseorang.


Artikel Lainnya: Mengenal Flu Singapura, Gejala, Cara Mencegah, dan Mengobati


Mengapa influenza A paling sering jadi sorotan?


Influenza A sering mendapat perhatian karena virus ini memiliki kemampuan berubah secara genetik. Perubahan tersebut dapat memengaruhi karakteristik virus dan kemampuannya menghindari kekebalan yang telah terbentuk sebelumnya.


Selain menyebabkan wabah flu musiman, influenza A juga merupakan jenis virus influenza yang diketahui dapat memicu pandemi apabila muncul varian baru yang mampu menyebar secara efisien antarmanusia dan menghadapi populasi dengan kekebalan yang rendah.


Dua subtipe influenza A yang umum beredar pada manusia adalah influenza A H1N1 dan influenza A H3N2. Keduanya dapat menyebabkan flu musiman, tetapi memiliki karakteristik genetik yang berbeda dan terus mengalami perubahan.


H1N1 yang beredar saat ini merupakan keturunan dari virus pandemi 2009, sedangkan H3N2 juga mengalami perubahan genetik dan antigenik. Untuk itu, pemantauan virus dan pembaruan komposisi vaksin influenza secara berkala menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.


Penyebab dan Cara Penularan Influenza A


Penyebab influenza A adalah infeksi virus influenza tipe A yang menyerang saluran pernapasan. Virus ini dapat menyebar dari satu orang ke orang lain, terutama ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.


Seseorang juga dapat tertular sebelum menyadari bahwa dirinya sedang sakit. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan tangan dan membatasi kontak dekat ketika sedang mengalami gejala flu merupakan langkah yang penting untuk melindungi keluarga.


Beberapa cara penularan influenza yang perlu KPeople ketahui meliputi:


  1. Melalui percikan pernapasan: Saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, partikel pernapasan yang mengandung virus dapat mencapai hidung atau mulut orang di sekitarnya.
  2. Melalui kontak dekat: Berada dalam jarak dekat dengan penderita, terutama di ruangan yang ramai atau memiliki ventilasi kurang baik, dapat meningkatkan risiko penularan.
  3. Melalui tangan atau benda yang terkontaminasi: Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus, kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Jalur ini bukan jalur utama penularan influenza.


Setelah terpapar virus, gejala influenza biasanya muncul dalam satu hingga empat hari, dengan rata-rata sekitar dua hari. Penderita dapat menularkan virus sejak sekitar satu hari sebelum gejala muncul hingga lima sampai tujuh hari setelah mulai sakit.


Anak kecil dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dapat menularkan virus lebih lama. Artinya, KPeople tetap perlu waspada meskipun seseorang baru menunjukkan gejala ringan.


Gejala Influenza A


Gejala influenza A dapat muncul secara mendadak. Seseorang yang awalnya merasa sehat mungkin tiba-tiba mengalami demam, menggigil, sakit kepala, dan nyeri otot sehingga aktivitas sehari-hari terasa berat.


Namun, tidak semua penderita mengalami demam. Ada pula yang lebih banyak mengalami batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, atau kelelahan. Pada anak-anak, infeksi juga dapat disertai muntah, diare, dan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih rewel.


Berikut beberapa gejala influenza A yang dapat KPeople perhatikan:


  1. Demam atau badan terasa panas, terkadang disertai menggigil.
  2. Batuk, yang dapat terasa kering atau mengganggu tenggorokan.
  3. Pilek atau hidung tersumbat.
  4. Sakit tenggorokan.
  5. Nyeri otot dan badan terasa pegal.
  6. Sakit kepala.
  7. Tubuh lemas dan mudah lelah.
  8. Nafsu makan menurun.
  9. Muntah atau diare, terutama pada anak-anak.


Gejala tersebut tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami influenza A. Infeksi saluran pernapasan lain, termasuk influenza B dan COVID-19, dapat menimbulkan keluhan serupa.


Jika hasil diagnosis diperlukan untuk menentukan penanganan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan influenza, terutama pada orang yang berisiko mengalami komplikasi atau sedang mengalami penyakit berat.


Artikel Lainnya: Batuk Pilek Biasa vs Alergi pada Anak: Apa Perbedaannya?


Berapa lama gejala berlangsung?


Pada kebanyakan orang, gejala utama influenza mulai membaik dalam beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Demam dan nyeri badan biasanya berangsur mereda lebih dahulu, sedangkan batuk dan rasa lelah bisa bertahan lebih lama. Waktu pemulihan setiap orang dapat berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan tingkat keparahan infeksi.


KPeople sebaiknya tidak mengabaikan gejala yang menetap atau memburuk. Jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, sesak napas muncul, atau kondisi yang sempat membaik kembali memburuk, segera cari pertolongan medis. Pada bayi, anak kecil, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit kronis, konsultasi lebih awal sangat dianjurkan karena risiko komplikasinya lebih tinggi.


Influenza A vs Influenza B vs Flu Biasa vs COVID-19


Influenza A vs influenza B, flu biasa, dan COVID-19 memiliki beberapa kesamaan, terutama gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan rasa lelah. Meski begitu, keempatnya disebabkan oleh virus yang berbeda atau kelompok virus yang berbeda.


Influenza A dan B sama-sama menyebabkan flu musiman, sedangkan flu biasa umumnya disebabkan oleh virus lain, seperti rhinovirus. COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Perbedaan influenza A dan B terutama terletak pada karakteristik virusnya. Influenza A memiliki berbagai subtipe, termasuk H1N1 dan H3N2, serta diketahui dapat memicu pandemi.


Sementara itu, influenza B tidak diklasifikasikan menggunakan subtipe H dan N seperti influenza A. Keduanya dapat menyebabkan penyakit ringan maupun berat, sehingga jenis influenza saja tidak selalu menentukan tingkat keparahan yang dialami seseorang.


Berikut gambaran perbandingan gejala dan tingkat keparahan Influenza B, Flu biasa, dan influenza A vs covid-19 dapat membantu KPeople memahami perbedaannya.


AspekInfluenza AInfluenza BFlu biasaCOVID-19
PenyebabVirus influenza tipe AVirus influenza tipe BUmumnya rhinovirus atau virus pernapasan lainVirus SARS-CoV-2
Awal gejalaSering mendadakSering mendadakUmumnya bertahapBervariasi
DemamUmum terjadi, tetapi tidak selaluDapat terjadiBiasanya tidak ada atau ringanDapat terjadi
Nyeri otot dan badanUmumUmumBiasanya ringanDapat terjadi
Batuk dan pilekSeringSeringSeringSering
Gangguan penciuman atau pengecapan baruTidak khasTidak khasTidak khasDapat terjadi
Tingkat keparahanRingan hingga beratRingan hingga beratUmumnya ringanRingan hingga berat


Tabel tersebut hanya memberikan gambaran umum, bukan cara untuk mendiagnosis penyakit. Gejala saja tidak dapat memastikan apakah seseorang mengalami influenza A, influenza B, atau COVID-19. Pada kondisi tertentu, dokter dapat menyarankan tes untuk mengetahui penyebab infeksi sehingga pengobatan dapat diberikan sesuai kebutuhan.


Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Komplikasi?


Siapa pun dapat mengalami komplikasi influenza, termasuk orang yang sebelumnya sehat. Namun, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat, membutuhkan perawatan di rumah sakit, atau mengalami komplikasi seperti pneumonia.


Oleh karena itu, KPeople perlu lebih waspada jika Si Kecil atau anggota keluarga yang sedang sakit termasuk kelompok berisiko.


Kelompok yang lebih berisiko mengalami komplikasi influenza antara lain:


  1. Anak-anak berusia di bawah lima tahun, terutama yang berusia di bawah dua tahun.
  2. Orang lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.
  3. Ibu hamil dan orang yang baru melahirkan.
  4. Orang dengan penyakit kronis, seperti asma, diabetes, penyakit jantung, atau penyakit paru-paru.
  5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat penyakit atau pengobatan tertentu.
  6. Orang dengan kondisi medis tertentu yang meningkatkan risiko penyakit berat.


Pada kelompok tersebut, sebaiknya jangan menunggu sampai gejala menjadi berat sebelum menghubungi dokter.


Penanganan lebih awal dapat membantu dokter menilai kebutuhan pemeriksaan dan kemungkinan pemberian antivirus. Jika Si Kecil terlihat sangat lemas, sulit minum, atau mengalami gangguan pernapasan, segera cari pertolongan medis.


Artikel Lainnya: Super Flu: Gejala, Risiko Kematian, Pencegahan & Pengobatan


Cara Mengatasi Influenza A


Cara mengobati flu akibat influenza A bergantung pada tingkat keparahan gejala dan kondisi kesehatan penderita. Sebagian besar orang yang mengalami infeksi ringan dapat menjalani pemulihan di rumah dengan istirahat cukup, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengatasi gejala yang mengganggu.


Namun, orang yang berisiko mengalami komplikasi atau menunjukkan tanda penyakit berat perlu mendapatkan penilaian dokter sesegera mungkin. Berikut tipsnya:


1. Istirahat cukup dan penuhi cairan


Ketika terserang influenza A, tubuh membutuhkan waktu untuk melawan infeksi. KPeople dapat membantu proses pemulihan dengan memastikan diri sendiri atau anggota keluarga yang sakit cukup beristirahat, minum air secara teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi sesuai kemampuan. Jika nafsu makan menurun, cobalah makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering.


Untuk meredakan demam atau nyeri badan, obat pereda gejala dapat dipertimbangkan sesuai usia, kondisi kesehatan, dan petunjuk dokter atau apoteker.


Jangan memberikan obat flu dewasa kepada anak tanpa memastikan keamanan dan dosisnya. Hindari memberikan aspirin kepada anak atau remaja yang sedang mengalami infeksi virus, kecuali atas instruksi dokter. Selain itu, tetaplah di rumah selama sakit dan kurangi kontak dekat dengan orang lain agar risiko penularan berkurang.


2. Peran obat antivirus yang diresepkan dokter


Dokter dapat meresepkan obat antivirus untuk menangani influenza, terutama pada orang yang mengalami penyakit berat, dirawat di rumah sakit, atau berisiko tinggi mengalami komplikasi.


Salah satu obat yang digunakan adalah oseltamivir. Antivirus bekerja terhadap virus influenza, bukan sekadar meredakan demam atau batuk. Pengobatan antivirus umumnya memberikan manfaat terbesar jika dimulai sedini mungkin, sering kali dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.


Meski demikian, pada pasien dengan penyakit berat atau berisiko tinggi, dokter dapat mempertimbangkan antivirus meskipun sudah lewat dari periode tersebut. KPeople tidak perlu membeli atau menggunakan antivirus sendiri tanpa pemeriksaan dan resep dokter.


Mitos: antibiotik tidak mempan untuk flu karena penyebabnya virus


Antibiotik bukan obat untuk influenza A karena penyakit ini disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik bekerja melawan bakteri. Penggunaan antibiotik tanpa indikasi tidak mempercepat penyembuhan flu dan dapat meningkatkan risiko resistansi antibiotik. Jadi, KPeople tidak perlu meminta antibiotik hanya karena mengalami demam, batuk, atau pilek.


Namun, pada kondisi tertentu, influenza dapat disertai infeksi bakteri sekunder, seperti pneumonia bakteri. Jika dokter menemukan tanda infeksi bakteri, antibiotik mungkin diperlukan sebagai bagian dari penanganan. Keputusan tersebut harus berdasarkan evaluasi medis, bukan semata-mata karena gejala flu belum membaik.


Kapan Harus ke Dokter?


KPeople sebaiknya menghubungi dokter jika gejala influenza terasa berat, tidak kunjung membaik, atau muncul pada orang yang memiliki risiko komplikasi. Pemeriksaan juga penting jika membutuhkan kepastian diagnosis, terutama ketika gejala influenza menyerupai COVID-19 atau infeksi pernapasan lainnya. Penanganan yang tepat dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.


Segera cari pertolongan medis jika muncul tanda bahaya berikut:


  1. Sesak napas atau napas terasa sangat cepat.
  2. Nyeri atau tekanan pada dada.
  3. Bibir atau wajah tampak kebiruan.
  4. Kebingungan, kejang, atau sulit dibangunkan.
  5. Tidak mampu minum, jarang buang air kecil, atau menunjukkan tanda dehidrasi.
  6. Demam tinggi yang menetap atau kondisi yang sempat membaik kemudian memburuk kembali.
  7. Pada anak, dada tampak tertarik ke dalam saat bernapas, anak sangat lemas, atau tidak merespons seperti biasanya.


Jika Si Kecil berusia di bawah tiga bulan dan mengalami demam dengan suhu 38°C atau lebih, segera cari penilaian medis. Jangan menunda pertolongan hanya karena KPeople menduga gejalanya merupakan flu biasa.


Artikel Lainnya: Musim Pancaroba di Depan Mata, Jangan Tumbang Guys!


Cara Mencegah Influenza A


Mencegah influenza A tidak hanya bertujuan melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu menjaga kesehatan keluarga, terutama bayi, lansia, ibu hamil, dan anggota keluarga dengan penyakit kronis.


Beberapa kebiasaan sederhana dapat mengurangi risiko penularan, terutama jika dilakukan secara konsisten. KPeople juga dapat mempertimbangkan vaksinasi influenza sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap penyakit dan komplikasinya.


1. Vaksinasi influenza


Vaksin influenza membantu mengurangi risiko terkena flu dan mengalami komplikasi serius. Karena virus influenza terus mengalami perubahan, komposisi vaksin diperbarui secara berkala agar sesuai dengan virus yang diperkirakan akan beredar. Vaksinasi umumnya dianjurkan setiap tahun, sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dan ketersediaan vaksin yang sesuai.


Meski sudah mendapatkan vaksin influenza, seseorang masih mungkin terinfeksi. Namun, vaksinasi dapat membantu menurunkan risiko penyakit berat dan komplikasi. KPeople dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai waktu vaksinasi yang tepat, khususnya jika sedang hamil, memiliki penyakit kronis, atau ingin memberikan perlindungan bagi Si Kecil. Vaksin influenza juga berbeda dari vaksin COVID-19, sehingga keduanya tidak saling menggantikan.


2. Cuci tangan, pakai masker saat sakit, & ketahui etika batuk


Biasakan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah batuk atau bersin, dan setelah menyentuh benda yang sering digunakan bersama. Jika sabun dan air tidak tersedia, KPeople dapat menggunakan hand sanitizer yang sesuai. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan.


Saat batuk atau bersin, tutup hidung dan mulut menggunakan tisu atau siku bagian dalam. Buang tisu bekas ke tempat sampah, kemudian cuci tangan.


Gunakan masker saat sedang sakit atau ketika perlu berada di dekat orang lain, dan usahakan tetap di rumah selama kondisi masih menular. Pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik untuk membantu mengurangi paparan partikel pernapasan.


3. Menjaga daya tahan tubuh lewat pola hidup sehat


Pola hidup sehat membantu menjaga fungsi tubuh dan mendukung pemulihan saat sakit, meskipun tidak dapat menjamin seseorang bebas dari influenza. KPeople dapat memulainya dengan tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, minum air yang cukup, melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan, dan mengelola stres. Kebiasaan ini sebaiknya dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika flu mulai menyerang.


Jika ada anggota keluarga yang mengalami influenza, usahakan untuk membatasi kontak dekat, tidak berbagi barang pribadi yang bersentuhan dengan mulut, dan menjaga kebersihan permukaan yang sering disentuh. Langkah-langkah tersebut akan lebih efektif jika dilakukan bersama vaksinasi dan kebiasaan menjaga kebersihan pernapasan.


Memahami influenza A membantu kita bersikap tepat; mencegah penularan, merawat gejala dengan benar, dan tahu kapan perlu ke dokter. Menjaga daya tahan tubuh lewat pola hidup sehat dan kebutuhan kesehatan keluarga yang terpenuhi juga jadi bagian dari pencegahannya.


Kamu bisa memasukkan multivitamin sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya tahan tubuh keluarga. Dan kabar baiknya, setiap pembelian produk multivitamin Kalbe seperti Blackmores bisa memberimu nilai lebih.


KPoin adalah program loyalitas dari Kalbe yang mengubah setiap transaksi produk Kalbe menjadi poin yang bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah pilihanmu.


Yuk, kenali lebih lanjut Apa Itu KPoin dan download aplikasi KPoin sekarang. Di aplikasi, kamu bisa langsung melihat jumlah poin yang bertambah setiap kali bertransaksi produk Kalbe.


Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Influenza. Diakses dari https://www.cdc.gov/flu/about/index.html
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Types of Influenza Viruses. Diakses dari https://www.cdc.gov/flu/about/viruses-types.html
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kasus influenza meningkat, tetapi masih dalam rentang kewaspadaan. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/id/kemenkes-kasus-influenza-meningkat-tetapi-masih-dalam-rentang-kewaspadaan
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tanya Jawab Seputar Influenza. Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/tanya-jawab-faq-seputar-influenza
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. FAQ Influenza: Gejala, Penanganan, dan Pencegahan. Diakses dari https://www.kemkes.go.id/id/faq-influenza-gejala-penanganan-pencegahan
  6. Mayo Clinic. Influenza (Flu): Symptoms and Causes. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/flu/symptoms-causes/syc-20351719
  7. Mayo Clinic. Influenza (Flu): Diagnosis and Treatment. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/flu/diagnosis-treatment/drc-20351725
  8. Mayo Clinic. -19 vs. Flu: Similarities and Differences. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/coronavirus-vs-flu/art-20490339
  9. Mayo Clinic. Fever in Children: Symptoms and Causes. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fever-in-children/symptoms-causes/syc-20352759
  10. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Influenza Antiviral Medications: Summary for Clinicians. Diakses dari https://www.cdc.gov/flu/hcp/antivirals/summary-clinicians.html
  11. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treating Flu with Antiviral Drugs. Diakses dari https://www.cdc.gov/flu/treatment/antiviral-drugs.html
  12. National Center for Biotechnology Information (NCBI Bookshelf). Influenza – CDC Yellow Book, 2026 Edition. Diakses dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK620922/

Komentar

empty-state-comment

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!

Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.