
Diet dan Nutrisi
Bahaya Minuman Manis bagi Kesehatan yang Sering Diremehkan
Penulis: Siti Nurmayani Putri
Senin, 29 Juni 2026
Rating Artikel 5/5
|
2
Bagikan
Bahaya minuman manis menjadi perhatian serius karena konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Tidak hanya soda, minuman seperti es kopi susu, teh kemasan, minuman boba, hingga jus dalam kemasan juga sering mengandung gula dalam jumlah tinggi.
Sayangnya, banyak orang, mungkin juga termasuk KPeople yang tidak menyadari bahwa satu gelas minuman saja dapat memenuhi bahkan melampaui batas konsumsi gula harian yang dianjurkan.
Mengapa Minuman Manis Lebih Berbahaya dari yang Kamu Kira?
Minuman manis mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa memberikan rasa kenyang yang signifikan. Akibatnya, asupan kalori meningkat tanpa disadari. Kondisi ini diperparah dengan adanya hidden sugar, yaitu gula tersembunyi yang ditambahkan ke dalam minuman dengan berbagai nama, seperti sukrosa, sirup jagung tinggi fruktosa (high fructose corn syrup), dekstrosa, maltosa, atau sirup glukosa.
Konsep gula tambahan vs gula alami juga penting dipahami. Gula alami terdapat pada buah dan susu serta disertai serat atau nutrisi lain yang membantu memperlambat penyerapan gula.
Sebaliknya, gula tambahan pada minuman kemasan umumnya hanya menambah kalori tanpa manfaat gizi yang berarti. Inilah alasan mengapa bahaya gula berlebih dari minuman dapat lebih besar dibandingkan konsumsi buah utuh.
Batas Konsumsi Gula Harian Menurut WHO
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar asupan gula bebas dibatasi kurang dari 10% dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5% untuk manfaat kesehatan tambahan. Pada orang dewasa, angka tersebut setara sekitar 25 gram atau kurang lebih 6 sendok teh gula per hari.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat membatasi konsumsi gula hingga sekitar 50 gram atau 4 sendok makan per hari sebagai bagian dari pedoman G4G1L5 (Gula, Garam, Lemak). Namun, jika mengonsumsi satu gelas minuman manis berukuran besar, jumlah tersebut dapat tercapai dengan sangat cepat.
Artikel Lainnya: Betulkah Garam Bisa Bikin Gemuk? Begini Faktanya!
Perbandingan Kandungan Gula dalam Minuman Populer di Indonesia
Banyak minuman favorit ternyata mengandung gula dalam jumlah yang mengejutkan. Berikut gambaran rata-rata kandungan gula minuman kemasan dan minuman populer:
- Es kopi susu ukuran 450–500 ml: sekitar 30–45 gram gula atau setara 7–11 sendok teh.
- Minuman boba ukuran reguler: sekitar 35–60 gram gula atau setara 9–15 sendok teh.
- Minuman bersoda 330 ml: sekitar 35 gram gula atau setara 9 sendok teh.
- Jus buah kemasan 250–300 ml: sekitar 20–35 gram gula atau setara 5–9 sendok teh, tergantung merek dan tambahan pemanis.
Tingginya kadar gula pada kedua minuman ini menjadi salah satu alasan mengapa bahaya boba dan kopi susu perlu mendapat perhatian, terutama jika dikonsumsi hampir setiap hari tanpa memperhatikan total asupan gula harian.
Angka tersebut merupakan perkiraan karena setiap produk memiliki formulasi berbeda. Meski demikian, data ini menunjukkan bahwa hanya dengan satu porsi minuman, seseorang bisa mendekati atau bahkan melampaui rekomendasi gula harian.
Artikel lainnya: Gula Rafinasi: Manfaat, Dampak & Perbandingan Gula Alami
Dampak Minuman Manis pada Tubuh
Mengonsumsi minuman manis sesekali umumnya tidak langsung menimbulkan masalah kesehatan. Namun, jika menjadi kebiasaan sehari-hari dan dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kandungan gula yang tinggi dapat memengaruhi berbagai organ serta sistem metabolisme tubuh.
1. Lonjakan Gula Darah dan Beban pada Pankreas
Minuman manis diserap dengan cepat oleh tubuh sehingga memicu lonjakan kadar glukosa darah. Untuk menurunkannya, pankreas harus menghasilkan insulin dalam jumlah besar. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, fungsi metabolisme dapat terganggu dan sensitivitas insulin menurun.
2. Risiko Diabetes Tipe 2 yang Meningkat
Hubungan antara minuman manis dan diabetes telah didukung oleh banyak penelitian. Konsumsi rutin minuman tinggi gula dapat meningkatkan risiko resistensi insulin dan akhirnya berkembang menjadi diabetes tipe 2, terutama bila disertai pola makan kurang sehat dan minim aktivitas fisik. Oleh karena itu, pemeriksaan atau cek gula darah secara berkala penting dilakukan bagi individu yang memiliki faktor risiko.
3. Penambahan Berat Badan dan Obesitas
Kalori cair dari minuman tidak memberikan rasa kenyang seperti makanan padat. Akibatnya, seseorang cenderung tetap makan dalam jumlah normal meski telah mengonsumsi kalori tinggi dari minuman. Hal ini berkontribusi terhadap minuman manis dan obesitas, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
4. Risiko Penyakit Jantung dan Kolesterol Tinggi
Konsumsi gula tambahan berlebih dikaitkan dengan peningkatan trigliserida, tekanan darah, dan risiko penyakit jantung. Pola makan tinggi gula dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi metabolisme lemak sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
5. Dampak pada Kesehatan Gigi dan Kulit
Bakteri di dalam mulut menggunakan gula sebagai sumber energi dan menghasilkan asam yang dapat merusak email gigi sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang. Selain itu, pola makan tinggi gula diduga dapat memperburuk proses peradangan dan berkontribusi terhadap munculnya jerawat pada sebagian orang.
Mengapa Minuman Manis Lebih Berisiko dari Makanan Manis?
Saat mengonsumsi makanan manis, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk mencernanya, terutama jika makanan tersebut mengandung protein, lemak, atau serat. Sebaliknya, minuman manis hampir tidak memerlukan proses pencernaan yang kompleks sehingga gula cepat masuk ke aliran darah.
Selain itu, minuman tidak memicu rasa kenyang seefektif makanan padat. KPeople dapat dengan mudah menghabiskan beberapa gelas minuman berpemanis dalam sehari tanpa merasa telah mengonsumsi banyak kalori.
Kondisi inilah yang membuat bahaya minuman manis sering kali lebih besar daripada camilan manis dalam jumlah yang setara.
Tanda-Tanda Tubuh Sudah Mulai Terdampak Konsumsi Gula Berlebih
Beberapa gejala berikut dapat menjadi sinyal bahwa tubuh menerima gula dalam jumlah berlebihan:
- Mudah haus dan sering buang air kecil.
- Berat badan meningkat tanpa sebab yang jelas.
- Mudah lapar meski baru makan.
- Cepat lelah dan mengantuk setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis.
- Muncul jerawat lebih sering.
- Gigi mudah berlubang.
- Hasil cek gula darah menunjukkan kadar gula mulai meningkat.
Pada anak-anak, dampak minuman manis pada anak juga dapat berupa peningkatan risiko obesitas, kerusakan gigi, hingga pembentukan kebiasaan makan tinggi gula sejak dini.
Strategi Mengurangi Minuman Manis Tanpa Merasa Tersiksa
Mengurangi gula tidak harus dilakukan secara ekstrem. Perubahan kecil yang konsisten justru lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
1. Cari Alternatif Pengganti (Substitusi) yang Masih Memuaskan
Cobalah mengganti soda dengan air putih dingin yang diberi irisan lemon atau mentimun, memilih kopi tanpa tambahan sirup, teh tawar, atau infused water. Jika ingin jus, pilih buah utuh atau jus tanpa tambahan gula agar kandungan serat tetap lebih terjaga.
Saat membeli kopi susu atau boba, pertimbangkan untuk meminta kadar gula 25–50% atau memilih ukuran yang lebih kecil. Dengan cara ini, KPeople tetap bisa menikmati minuman favorit sambil mengurangi asupan gula.
Artikel Lainnya: 3 Jenis Olahraga untuk Menurunkan Gula Darah yang Efektif
2. Pendekatan Bertahap, Bukan Langsung Total
Tidak semua orang nyaman menghentikan konsumsi minuman manis secara mendadak. Mulailah dengan mengurangi frekuensi, misalnya dari setiap hari menjadi tiga kali seminggu, lalu perlahan menjadi sekali seminggu.
Membiasakan diri membaca label gizi juga dapat membantu mengenali hidden sugar dan membandingkan kandungan gula minuman kemasan sebelum membeli. Langkah sederhana ini efektif untuk mengendalikan bahaya gula berlebih dalam jangka panjang.
Konsumsi minuman manis yang terjadi setiap hari bisa membangun dampak yang baru terlihat setelah bertahun-tahun, biasanya saat sudah menderita diabetes, kolesterol tinggi, atau masalah jantung. Itulah mengapa deteksi dini lewat pemeriksaan kesehatan menjadi sangat penting.
Medical Check Up di Mitrasana memberi gambaran komprehensif tentang kondisi gula darah, profil lipid, dan indikator metabolik lain sehingga kamu bisa tahu apakah pola konsumsi gula selama ini sudah mulai memberi tekanan pada tubuh.
Yuk, jadwalkan Medical Check Up di Mitrasana sekarang dan ambil langkah preventif sebelum gejala muncul. Dapatkan juga poin reward dari Kpoin untuk tiap transaksi produk-produk Kalbe dan tukarkan hanya lewat aplikasi Kpoin.
Referensi:
- WHO. Guideline: sugars intake for adults and children. Diakses dari https://www.who.int/publications/i/item/9789241549028
- CDC. Rethink Your Drink. Diakses dari https://www.cdc.gov/healthy-weight-growth/rethink-your-drink/index.html
- Healthline. 13 Ways That Sugary Soda Is Bad for Your Health. Diakses dari https://www.healthline.com/nutrition/13-ways-sugary-soda-is-bad-for-you
- NHS. Sugar: the facts. Diakses dari https://www.nhs.uk/live-well/eat-well/food-types/how-does-sugar-in-our-diet-affect-our-health/
- POM. Gula, Garam dan Lemak Ancaman Tersembunyi di Balik Makanan Sehari-hari. Diakses dari https://intelijen.pom.go.id/hot-issue/gula-garam-dan-lemak-ancaman-tersembunyi-di-balik-makanan-sehari-hari
- WebMD. 12 Ways Too Much Sugar Harms Your Body. Diakses dari https://www.webmd.com/diabetes/ss/slideshow-diabetes-too-much-sugar
Komentar

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



