
Kesehatan Anak
Cara Melatih Konsentrasi Anak Sesuai Usia yang Efektif
Penulis: Siti Nurmayani Putri
Selasa, 20 Oktober 2026
Rating Artikel 5/5
|
3
Bagikan
Menemani Si Kecil belajar memang membutuhkan kesabaran ekstra, terutama ketika perhatiannya mudah beralih ke mainan, suara, atau hal lain di sekitarnya. KPeople mungkin pernah merasa khawatir saat anak sulit konsentrasi ketika mendengarkan cerita, menyelesaikan permainan, atau mengerjakan tugas sekolah.
Namun, kondisi ini tidak selalu berarti ada masalah pada tumbuh kembangnya. Kemampuan untuk memusatkan perhatian masih berkembang seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan kematangan anak.
Oleh karena itu, memahami cara melatih konsentrasi anak sesuai usia dapat membantu KPeople mendampingi Si Kecil tanpa memberikan tuntutan yang terlalu berat.
Melatih fokus anak tidak harus dilakukan melalui kegiatan belajar yang serius atau lembar kerja yang membosankan. KPeople bisa memulainya lewat aktivitas sehari-hari, seperti menyusun balok, membaca buku cerita, bermain puzzle, hingga membantu membereskan mainan.
Hal yang tidak kalah penting adalah membangun kebiasaan yang mendukung fokus anak, termasuk tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, aktif bergerak, dan menggunakan gawai secara bijak. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan konsisten, Si Kecil dapat berlatih mempertahankan perhatian secara bertahap.
Artikel lainnya: Kenali Brain Rot dan Dampaknya bagi Perkembangan Otak Anak
Seberapa Lama Anak Normalnya Bisa Fokus?
Setiap anak memiliki kemampuan memusatkan perhatian yang berbeda. Rentang fokus anak per usia dipengaruhi oleh tahap perkembangan, minat terhadap aktivitas, kondisi fisik, lingkungan, serta tingkat kesulitan tugas yang dilakukan.
Anak yang mampu duduk lama saat menyusun balok kesukaannya, misalnya, belum tentu dapat mempertahankan perhatian selama waktu yang sama ketika diminta mengerjakan tugas yang kurang menarik. Untuk itu, tidak ada satu angka durasi yang dapat dijadikan patokan mutlak untuk semua anak.
Sebagai gambaran praktis, berikut karakteristik perhatian yang umumnya bisa KPeople temui pada setiap tahap usia. Rentang waktu ini merupakan panduan untuk mengatur kegiatan, bukan standar medis atau batas kemampuan yang wajib dicapai setiap anak:
- Usia 1–3 tahun: Si Kecil biasanya lebih mudah mempertahankan perhatian melalui permainan langsung yang melibatkan gerakan, benda konkret, dan interaksi dengan orang tua. Perhatiannya dapat berpindah dengan cepat karena ia sedang aktif mengeksplorasi lingkungan.
- Usia 3–5 tahun: Anak mulai mampu mengikuti permainan imajinatif, menyelesaikan puzzle sederhana, atau mendengarkan cerita dalam durasi yang lebih panjang. Namun, ia masih membutuhkan arahan dan pengingat dari orang dewasa.
- Usia 6–12 tahun: Anak umumnya mulai lebih mampu mengikuti instruksi bertahap, menyelesaikan tugas sekolah, dan mempertahankan perhatian pada kegiatan yang terstruktur. Meski begitu, aktivitas yang sulit, melelahkan, atau kurang menarik tetap bisa membuatnya kehilangan fokus.
Perlu diingat, kemampuan fokus tidak berkembang secara lurus setiap hari. Anak yang sedang lapar, mengantuk, lelah, atau mengalami perubahan rutinitas mungkin terlihat lebih mudah teralih dibandingkan biasanya.
Jadi, alih-alih langsung menganggap Si Kecil kurang disiplin, KPeople bisa terlebih dahulu mengamati kebutuhan dan kondisi yang memengaruhi perhatiannya.
Fondasi yang Mendukung Konsentrasi Anak
Sebelum mencari cara meningkatkan konsentrasi anak melalui permainan atau latihan belajar, KPeople perlu memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Otak Si Kecil masih berkembang dan membutuhkan dukungan berupa istirahat yang cukup, asupan gizi seimbang, kesempatan bergerak, serta lingkungan yang nyaman. Keempat hal ini saling berkaitan dan dapat membantu anak lebih siap untuk belajar, bermain, serta menjalani aktivitas sehari-hari.
1. Tidur cukup dan berkualitas
Tidur dan konsentrasi anak memiliki hubungan yang erat. Anak yang kurang tidur bisa lebih mudah mengantuk, rewel, sulit mengikuti instruksi, atau justru terlihat lebih aktif daripada biasanya. Oleh karena itu, jika Si Kecil sering kehilangan fokus pada siang hari, KPeople bisa mulai mengevaluasi jadwal dan kualitas tidurnya sebelum menambah latihan konsentrasi.
Kebutuhan tidur anak berbeda sesuai usianya. Sebagai panduan, anak usia 1–2 tahun membutuhkan sekitar 11–14 jam tidur per hari termasuk tidur siang, usia 3–5 tahun sekitar 10–13 jam, dan usia 6–12 tahun sekitar 9–12 jam.
KPeople dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut dengan menetapkan jam tidur dan bangun yang konsisten, menciptakan suasana kamar yang nyaman, serta membangun rutinitas sebelum tidur, misalnya membaca buku bersama.
2. Sarapan dan nutrisi seimbang
Nutrisi untuk otak anak tidak berasal dari satu jenis makanan atau suplemen tertentu saja. Si Kecil membutuhkan pola makan yang bervariasi untuk memperoleh energi dan zat gizi yang mendukung pertumbuhan serta perkembangan otak. KPeople dapat menyajikan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam porsi sesuai kebutuhan usianya.
Sarapan dapat menjadi bagian dari rutinitas pagi agar anak tidak memulai aktivitas dalam keadaan lapar. Pilih menu yang praktis tetapi tetap bergizi, seperti nasi dengan telur dan sayuran, roti gandum dengan telur, atau oatmeal dengan buah dan susu sesuai kebutuhan anak.
Selain sarapan sehat, pastikan Si Kecil mendapatkan makanan utama dan camilan bergizi sesuai jadwal. Tidak perlu memaksa anak menghabiskan makanan, cukup perhatikan kebutuhan, rasa lapar, dan rasa kenyangnya.
3. Aktivitas fisik harian
Anak membutuhkan kesempatan untuk bergerak, bukan hanya duduk dan berlatih fokus. Bermain aktif membantu mendukung perkembangan fisik dan kemampuan motoriknya, sekaligus memberikan ruang bagi Si Kecil untuk mengeksplorasi lingkungan. KPeople bisa mengajak anak berlari, menari, bermain bola, melompat, atau berjalan santai sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
Untuk anak usia 3–5 tahun, aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sepanjang hari. Sementara itu, anak usia 6–17 tahun dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setidaknya 60 menit sehari.
Jika Si Kecil sulit duduk tenang saat belajar, KPeople bisa menyisipkan jeda untuk bergerak sebelum kembali ke kegiatan yang membutuhkan perhatian. Tujuannya bukan membuat anak kelelahan, melainkan membantunya memiliki rutinitas harian yang lebih seimbang.
4. Batas waktu layar
Video dengan pergantian gambar yang cepat, suara menarik, dan beragam rangsangan dapat membuat anak terbiasa mendapatkan stimulasi dari layar. Untuk itu, batasi screen time anak agar penggunaan gawai tidak menggantikan waktu tidur, bermain aktif, membaca, dan berinteraksi langsung dengan keluarga.
KPeople juga dapat mendampingi Si Kecil saat menonton agar konten yang dipilih sesuai usia dan dapat menjadi kesempatan untuk belajar bersama.
Untuk anak usia 2–5 tahun, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pembatasan penggunaan media hingga sekitar satu jam sehari untuk konten berkualitas, dengan pendampingan orang tua.
Pada anak yang lebih besar, buat aturan sesuai kebutuhan keluarga, seperti tidak menggunakan gawai saat makan atau belajar dan menghentikan penggunaan layar menjelang tidur. Aturan yang konsisten dan diterapkan oleh seluruh anggota keluarga akan lebih mudah dipahami daripada larangan yang berubah-ubah.
Artikel Lainnya: Pernah Dengar STEAM? Cara Tingkatkan Kecerdasan Anak
Cara Melatih Konsentrasi Anak
Setelah kebutuhan dasar Si Kecil terpenuhi, KPeople bisa mulai melatih konsentrasi melalui kegiatan sederhana yang sesuai dengan usianya.
Kuncinya bukan membuat anak terus-menerus duduk diam, melainkan membantunya belajar memperhatikan, mengikuti instruksi, menyelesaikan aktivitas, dan kembali fokus setelah perhatiannya teralihkan.
Mulailah dari kegiatan yang disukai anak, berikan arahan yang jelas, dan tingkatkan tantangannya secara bertahap.
Usia 1–3 Tahun
Pada usia ini, anak sedang aktif mengenali benda, mengembangkan kemampuan bahasa, dan belajar melakukan berbagai hal secara mandiri. KPeople tidak perlu menuntut Si Kecil untuk duduk lama atau menyelesaikan aktivitas yang rumit. Ajak ia berlatih fokus melalui permainan singkat, interaksi langsung, dan kegiatan yang melibatkan benda-benda di sekitarnya.
Beberapa aktivitas yang bisa KPeople coba antara lain:
- Membaca buku bergambar: Tunjukkan satu gambar dan ajak Si Kecil menyebutkan nama benda atau hewan yang dilihatnya. Biarkan ia membalik halaman dan bertanya sesuai kemampuannya.
- Menyusun balok: Ajak anak membuat menara sederhana atau mengelompokkan balok berdasarkan warna. KPeople dapat memberikan contoh, kemudian membiarkannya mencoba sendiri.
- Bermain meniru gerakan: Lakukan gerakan sederhana seperti bertepuk tangan, mengangkat tangan, atau berjalan seperti hewan. Minta Si Kecil menirukan gerakan KPeople.
- Mengelompokkan benda: Ajak anak memasukkan mainan ke keranjang atau mengelompokkan benda yang memiliki warna serupa. Gunakan benda berukuran aman dan hindari objek kecil yang berisiko tertelan.
- Memberikan instruksi sederhana: Minta Si Kecil melakukan satu hal dalam satu waktu, misalnya mengambil bola atau memasukkan balok ke kotak.
Aktivitas tersebut membantu anak berlatih memperhatikan arahan dan terlibat dalam permainan. Berikan pujian yang spesifik ketika ia mencoba mengikuti instruksi, tanpa harus menuntut hasil yang sempurna. Jika perhatiannya beralih, KPeople dapat mengajaknya kembali dengan lembut atau mengganti aktivitas ketika ia mulai bosan.
Usia 3–5 Tahun
Anak prasekolah mulai mampu mengikuti permainan yang lebih kompleks, menggunakan imajinasi, dan memahami instruksi sederhana yang terdiri dari beberapa langkah.
Pada tahap ini, KPeople dapat mulai mengenalkan aktivitas yang membutuhkan perhatian sedikit lebih lama. Namun, berikan kesempatan bagi Si Kecil untuk memilih permainan agar ia merasa terlibat, bukan sekadar mengikuti perintah orang dewasa.
Berikut beberapa cara melatih fokus anak usia prasekolah:
- Bermain puzzle: Mulailah dengan puzzle bergambar sederhana, kemudian pilih puzzle yang lebih menantang ketika Si Kecil sudah terbiasa.
- Bermain mencari benda: Minta anak mencari benda dengan ciri tertentu, misalnya benda berwarna merah atau mainan berbentuk lingkaran.
- Membacakan cerita: Bacakan cerita pendek, lalu ajukan pertanyaan sederhana tentang tokoh atau kejadian di dalamnya.
- Bermain peran: Ajak anak berpura-pura menjadi koki, dokter, atau penjual. Permainan ini dapat membantu anak mengikuti alur dan mempertahankan perhatian.
- Melakukan aktivitas seni: Sediakan kertas, krayon, atau bahan kerajinan yang aman. Biarkan anak menggambar atau membuat karya sesuai imajinasinya.
- Bermain permainan bergiliran: Permainan seperti menyusun balok secara bergantian dapat membantu anak berlatih menunggu, memperhatikan, dan mengikuti aturan.
KPeople juga bisa membiasakan Si Kecil menyelesaikan satu aktivitas sebelum berpindah ke aktivitas lain, selama tuntutannya sesuai kemampuannya. Misalnya, setelah selesai menggambar, ajak ia meletakkan krayon kembali ke tempatnya.
Rutinitas sederhana seperti ini membantu anak belajar mengikuti urutan kegiatan tanpa harus merasa bahwa setiap aktivitas merupakan tugas yang berat.
Usia 6–12 Tahun
Saat memasuki usia sekolah, anak mulai menghadapi kegiatan yang membutuhkan perhatian lebih terstruktur, seperti membaca, mengerjakan pekerjaan rumah, memahami pelajaran, dan mengikuti instruksi guru.
Jika anak sulit fokus belajar, KPeople sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa ia malas. Periksa dahulu apakah tugasnya terlalu sulit, instruksinya kurang jelas, lingkungan belajarnya ramai, atau ia membutuhkan istirahat.
KPeople dapat membantu anak berlatih fokus melalui beberapa kebiasaan berikut:
- Membagi tugas menjadi bagian kecil: Daripada meminta anak menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah sekaligus, bagi tugas menjadi beberapa bagian. Setelah satu bagian selesai, ia bisa beristirahat sebentar sebelum melanjutkan.
- Membuat jadwal belajar: Tentukan waktu untuk belajar, bermain, makan, dan beristirahat. Libatkan anak dalam menyusun jadwal agar ia belajar mengatur waktunya sendiri.
- Menyiapkan tempat belajar yang nyaman: Pilih area dengan pencahayaan cukup, perlengkapan yang diperlukan, dan gangguan seminimal mungkin. Simpan mainan atau gawai yang tidak digunakan.
- Menggunakan pengingat visual: Buat daftar tugas sederhana agar anak tahu apa yang perlu dikerjakan dan dapat menandai tugas yang sudah selesai.
- Melatih permainan strategi: Permainan papan, catur sederhana, teka-teki, atau permainan menyusun pola dapat menjadi kesempatan untuk berlatih mengikuti aturan dan merencanakan langkah.
- Memberikan jeda secara teratur: Beri anak kesempatan berdiri, melakukan peregangan, atau minum air setelah menyelesaikan satu bagian tugas. Sesuaikan durasi belajar dengan kebutuhan dan kemampuan anak.
- Mengapresiasi proses: Hargai usaha anak ketika ia kembali mengerjakan tugas setelah terdistraksi atau berusaha menyelesaikan pekerjaan. Hindari hanya memuji nilai atau hasil akhirnya.
Untuk membantu anak mempertahankan perhatian, KPeople juga bisa mengajarkan strategi sederhana, seperti membaca instruksi terlebih dahulu, menggarisbawahi informasi penting, lalu memeriksa kembali pekerjaan sebelum dikumpulkan. Keterampilan ini sebaiknya dilatih secara bertahap sampai anak mampu menggunakannya dengan lebih mandiri.
Artikel Lainnya: Pahami Golden Age Anak: Umur Berapa & Kenapa Sangat Penting?
Kapan Konsultasi ke Dokter atau Psikolog Anak?
Anak mudah teralih bukan berarti selalu mengalami gangguan perkembangan. Namun, KPeople sebaiknya memperhatikan apabila kesulitan berkonsentrasi terjadi terus-menerus, semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat Si Kecil kesulitan mengikuti pembelajaran dan berinteraksi dengan orang lain.
Perhatikan juga apakah masalah serupa terlihat di rumah maupun di sekolah, bukan hanya saat mengerjakan satu jenis kegiatan tertentu.
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak apabila Si Kecil menunjukkan kondisi berikut:
- Sering kesulitan mengikuti instruksi sederhana meskipun sudah disampaikan dengan jelas dan sesuai usianya.
- Hampir selalu meninggalkan tugas atau kegiatan sebelum selesai sehingga aktivitas sehari-harinya terganggu.
- Mengalami kesulitan mengikuti pelajaran, menyelesaikan tugas sekolah, atau menjalankan rutinitas di rumah.
- Memiliki kesulitan memperhatikan yang juga disertai perilaku impulsif atau aktivitas berlebihan hingga mengganggu hubungan dengan teman dan keluarga.
- Mengalami perubahan kemampuan belajar, perilaku, atau perkembangan yang membuat KPeople khawatir.
Kesulitan mempertahankan perhatian dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk masalah tidur, kondisi emosional, kesulitan belajar, maupun gangguan perkembangan seperti attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD).
Namun, anak tidak dapat didiagnosis ADHD hanya karena mudah terdistraksi atau aktif bergerak. Dokter perlu melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk mempertimbangkan gejala yang muncul di berbagai lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan anak.
Semakin dini kekhawatiran dibicarakan dengan tenaga profesional, semakin cepat KPeople bisa mendapatkan arahan yang sesuai dengan kebutuhan Si Kecil. KPeople juga dapat berdiskusi dengan guru untuk mengetahui perilaku anak di sekolah dan mencari strategi pendampingan yang konsisten antara rumah dan sekolah. Tidak perlu menunggu sampai prestasi akademiknya menurun untuk mencari bantuan.
Melatih konsentrasi anak berjalan beriringan dengan nutrisi yang mendukung tumbuh kembangnya. Zee dan Cerebrofort hadir sebagai pilihan untuk membantu melengkapi kebutuhan nutrisi anak, sehingga ia punya energi dan dukungan gizi untuk belajar dan bermain.
Dan kabar baiknya, setiap pembelian produk Kalbe bisa memberimu nilai lebih. KPoin adalah program loyalitas dari Kalbe yang mengubah setiap transaksi produk Kalbe menjadi poin yang bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah pilihanmu.
Yuk, kenali lebih lanjut Apa Itu KPoin dan download aplikasi KPoin sekarang. Di aplikasi, kamu bisa langsung melihat jumlah poin yang bertambah setiap kali bertransaksi produk Kalbe.
Referensi:
- Mayo Clinic. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) in children – Symptoms and causes. Diakses dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adhd/symptoms-causes/syc-20350889
- HealthyChildren.org. 3 Ways Your Child Builds Important Life Skills Through Play. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/family-life/power-of-play/Pages/3-ways-your-child-builds-important-life-skills-through-play.aspx
- HealthyChildren.org. Cognitive Development in Preschool Children. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Cognitive-Development-In-Preschool-Children.aspx
- CDC. Healthy Habits: Child Development. Diakses dari https://www.cdc.gov/child-development/about/
- CDC. About Sleep. Diaksed dari https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
- CDC. Sleep and Health. Diakses dari https://www.cdc.gov/healthy-schools/sleep/index.html
- Kementerian Kesehatan RI – Ayo Sehat. Apa yang Terjadi Saat Tidur? Ini Pentingnya Tidur untuk Tumbuh Kembang Anak. Diakses dari https://ayosehat.kemkes.go.id/apa-yang-terjadi-saat-tidur-ini-pentingnya-tidur-untuk-tumbuh-kembang-anak
- HealthyChildren.org. Infant Nutrition & Brain Development: AAP Policy Explained. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/Babys-First-1000-Days-AAP-Policy-Explained.aspx
- CDC. Child Activity: An Overview. Diakses dari https://www.cdc.gov/physical-activity-basics/guidelines/children.html
- HealthyChildren.org. Kids & Screen Time: 5 C's Questions for Toddlers & Preschoolers. Diakses dari https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/kids-and-screen-time-5-cs-questions-for-toddlers-and-preschoolers.aspx
- CDC. Positive Parenting Tips: Toddlers (2–3 Years Old). Diakses dari https://www.cdc.gov/child-development/positive-parenting-tips/toddlers-2-3-years.html
- CDC. Positive Parenting Tips: Preschoolers (3–5 Years Old). Diakses dari https://www.cdc.gov/child-development/positive-parenting-tips/preschooler-3-5-years.html
- CDC. Tips for Relying on Routines and Rules. Diaksed dari https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/structure-rules/index.html
- CDC. ADHD in Children. Diakses dari https://www.cdc.gov/adhd/about/
Komentar

Ayo, jadi orang pertama yang tulis komentar kamu di artikel ini!
Kamu akan diarahkan ke Aplikasi KPoin untuk berikan komen.



